Senin, 31 Oktober 2016

Menulis adalah Terapi

dulu menulis adalah kewajiban. menulis laporan praktikum. menulis karangan utk tugas bahasa. menulis rencana mingguan. dll.

sekarang menulis adalah terapi. sarana meluapkan emosi. agar tidak terlalu bahagianya karena ada orang-orang susah di sekitar yg bisa tersakiti atau minimal iri. agar marah dan sedih tidak menjadi bentuk kejahatan terhadap diri sendiri apalagi orang lain.

agar tidak terlalu pula sedihnya karena itu tidak baik dan malah bisa menyusahkan diri sendiri maupun orang lain.

ini sudah aku buktikan berkali-kali, terutama setelah menikah. ketika aku harus sekuat tenaga menyimpan masalah yang ada, memendam kesulitan, menahan dari menunjukkan romantisme di hadapan para jomblo.
tulisanku bukan untuk siapa-siapa. untuk aku sendiri. menenangkan saraf yang tegang atau euforiabyang terlalu tinggi. walaupun 90% adalah yang lebih dahulu kusebut.

aku biasanya menulis hal nyata yang aku miliki dan harus aku syukuri. berfokus pada kenikmatan bukan pada sakitnya. menuliskan hal yang akan kulakukan dan keindahan yang mungkin kutemui ketika melakukannya.

maka setelahnya aku menjadi lebih ringan. tangis reda. emosi turun. dan siap kembali ke komunitas manusia di sekitarku dengan wajah tanpa masalah lagi..