Kamis, 10 Desember 2015

Panggilan untuk diri sendiri

Saya memperhatikan keponakan semata wayangnya Mr S.. kok banyak amat ni anak ya panggilannya. Nama aslinya Divanda. Mamanya manggil dia Mbak Diva, endeh (nenek)nya juga Mbak Diva. Papanya manggil dia Cimut. Omnya, yaitu Mr S, manggil dia Poni. Sementara dia sendiri memanggil dirinya dengan Mbak.

Trus jadi ngeliat ke diri sendiri. Aku juga dink punya banyak panggilan. Efek dari memiliki nama depan yang bukan nama panggilan.

Nama depanku Diyan. Panggilanku yg umum, sampai sebelum aku mulai kerja, adalah Isna. Di rumah aku dipanggil Ina sama keluarga. Beberapa teman dekat juga manggilnya Ina. Adekku manggil aku Mbak Ina. Beberapa adik angkatan yang lumayan dekat manggilnya Mbak Na. Aku sendiri biasa menyebut diriku Ina di hadapan keluargaku. Kalo sama temen-temen yaa nyebutnya Gue atau Aku. Hehe

2010 adalah awal dari semuanya mulai semakin variasi. Tahun tsb adalah tahunnya aku mulai bekerja. Dannnn di tempat kerja ini,entah mengapa, sulit sekali mempengaruhi teman-teman bahwa nama panggilanku adalah Isna. Jadilah aku dipanggil dengan nama depanku, Diyan.

Yap, temen-temen panggil aku Diyan. Murid-murid dan wali murid biasa manggil Miss Diyan atau Ibu Diyan. Temen-temen di KI 70 malah ada yang manggil Budi, singkatan dari Bu Diyan ~sigh~ semena-mena deh kalian.

Yah apa pun lah.

Apalah artinya nama, setangkai mawar, dengan nama apapun, tetaplah harum.

Diriku, dengan nama apapun, tetaplah .... kece B-)

Oh Jengkol, Oh Petai, OH MY GOD x_x

Dalam sebuah sesi presentasi sebagai salah satu tugas akhir di level paling akhir kursus Bahasa Inggris, seorang gadis wanita berjilbab membuka peresentasi persuasifnya dengan menunjukkan suatu gambar sambil bertanya,"Do you know what it is?". Gambar tsb sangat familiar, tentu saja semua orang tau. Itu gambar petai, yah biar gampang kita sebut saja 'pete'. Maka seisi kelas menjawab. Sebagian sambil terkekeh, sebagian mengedip-ngedipkan mata. Yang jelas tujuan gadis tsb untuk memancing first impression yg baik sangat berhasil. Seisi kelas tertarik untuk menyimak presentasi persuasifnya mengenai pete. Gadis tersebut memaparkan manfaat pete bagi kesehatan. Di akhir presentasi bahkan ia melontarkan sebuah quotation yg diubah, yaitu: a petai a day keeps the doctor away!

Gadis tersebut adalah saya. Do i like pete? No! Not at all. I was just trying to show something different on my presentation. Yang lain kan persuasif mengunjungi suatu tempat wisata, atau persuasif untuk melakukan hal-hal yg positif. Nah, aku tuh pengen tampil beda. Emang kebiasaan deh suka gitu ~padahal butuh perjuangan habis2an untuk memunculkan nyali tampil beda begitu. Hahaha

Dan malam ini, sesi presentasi itu terputar ulang di otak. Apa sebab? Lakik eyke baru makan jengki tadi pagi bok!

Yes he likes jengki. Also, he likes pete!

X_________X

Dapatkah anda membayangkan bagaimana rasanya bermalam di kamar yang punya kamar mandi dalam, dan sangat amat kebetulan sekali posisi kamar mandi tsb berjarak sangat dekat dengan tempat tidur?! Dapatkah anda memberikan empati anda-anda semua kepada orang-orang yg tersiksa karena pasangannya sangat menukai jengki dan pete? Huhuhuhu...

Oh my God.... Trus ini gimana mau tidur? Semerbak euy! T____________T

Sampe-sampe otak ni menentukan pepatah yg tepat untuk malam ini, yaituu......

KARENA JENGKOL SEPORSI RUSAK MOOD ISTRI ANDA SEHARIAN

Duh, pingsan sekalian malah enak kali y? Sadarnya besok pas adzan subuh. Heuh..

Selasa, 08 Desember 2015

Menanti hadirmu, sang buah cinta..

Tadi siang seorang teman lama menyapa saya. Tanpa basa basi dja bertanya apakah saya pernah pergi ke dokter kandungan, karena setelah lima bulan menikah dia kok belum hamil juga. Dia jg bertanya apakah saya sudah 'isi' atau belum. Pada saat itu saya yang sedang mengedit soal remedial untuk murid-murid tercinta, hanya tertawa kecil.

Ya jelas saya pernah ke obsgyn. Saya punya miom nebeng hidup di rahim saya. Entah sudah seberapa ukurannya skrg. Banyak kendala untuk rutin kontrol ke dokter (weks alesan!). Dan ya jelas, sekarang saya belum 'isi'.

Yang saya lakukan berikutnya adalah menyemangati. Memberi saran untuk tidak stres. Berkata bahwa anak itu adalah rejeki yang kepemilikannya sudah ada yang mengatur. Mengingatkan bahwa Allah selalu yang paling tahu yang terbaik untuk kita. Mencoba mengungkapkan bahwa bukan punya-anak-atau-tidak yang menentukan kemuliaan kita; toh Aisyah RA tidak memiliki anak, pun begitu tidak berkurang kemuliaan beliau, kan?

Saya sempat tertegun. Bisa-bisanya saya tu ngomong begitu. Kaya ga pernah stres aja sepanjang perjalanan menantikan hadirnya sang buah cinta.

Walaupun... sebenarnya saya sedang berproses untuk mengikhlaskan kondisi bilamana seandainya -naudzubillah- Allah mentakdirkan saya untuk tidak memiliki anak... Hm... Tentu saya tidak akan bisa sehebat Aisyah RA. Jauhhhhhh...

Tapi itu tidak mudah. Pada saat menuliskan paragraf di atas pun dada saya terasa berat. Mata saya panas. Saya belum bisa seikhlas yang saya inginkan..

Tapi saya lelah diombang-ambing perasaan cemas. Diombang-ambing sugesti menyebalkan yang membuat saya sering mual layaknya orang yang tengah hamil muda. Lelah sekali. Saya pengen menikmati hidup dengan lebih santai.

Yang sering sekali terjadi adalah begini: minggu pertama siklus (pas haid) saya berada antara perasaan sedih karena si haid datang, sekaligus senang atas alasan yang sama: si haid datang. Sedih karena berarti bulan tsb saya blm dapat predikat 'ibu hamil', sekaligus senang karena H2C saya berakhir.

Minggu kedua bisa dibilang minggu paling nikmat di antara minggu-minggu yang lain. Emosi saya cenderung stabil. Kesehatan terasa prima.

Minggu ketiga adalah saat dimulainya perasaan-perasaan cemas itu datang. Ovulasi terjadi pada kisaran ini. Emosi saya labil. Pikiran jadi penuh dengan pengharapan sekaligus penolakan untuk berharap karena sudah berkali-kali gagal. Setiap berhubungan hampir selalu diiringi 'mantra' yang siucapkan berulang-ulang di dalam kepala: mudah-mudahan jadi, mudah-mudahan jadi, mudah-mudahan jadi... Bukan hal yang salah sih, tapi saya pikir hal tsb malah bikin saya stres.

Minggu keempat H2C setinggi bukit. Badan rasanya gak enak karena adanya perubahan-perubahan hormonal dalam tubuh. Beberapa saya simpulkan sebagai sugesti semata. Entahlah. Wallahualam. Yang jelas pada minggu ini asam lambung sering menjadi masalah, perut terasa mual, payudara terasa keras dan sensitif, penciuman menjadi lebih sensitif, pikiran juga sensi, dan tenggorokan terasa seperti mau meradang. Seperti gejala orang hamil kan? Padahal itu bs juga adalah gejala PMS. Ya kan? Tapi otak ini selalu berpikir "gara-gara 'isi' kali nih?!". Trus jd semangat. Trus jd down lagi karena toh ini bukan pertama kalinya seperti itu.

Minggu kelima -lumayan sering muncul- artinya haid telat datang. H2C menggila. Meninggi jadi setinggi gunung. Jangan tanya kaya apa rasanya badan ini. Mirip-mirip sama gejala di minggu sebelumnya, hanya saja dengan persentase masalah asam lambung yang memicu mual yang sedikit lebih tinggi. Pada minggu ini setiap detik saya berharap bahwa haid tidak datang karena ada buah cinta tumbuh dalam rahim saya. Tapi semakin berjalannya hari, dengan testpack yang tidak kunjung menunjukkan hasil positif, sebagian hati saya berharap agar haid segera datang dan menghentikan perasaan tak menentu ini.

Dan siklus itu berulang lagi. Dan lagi. Dan lagi... Entah harus sampai kapan...

~~oh ya, sedikit menjelaskan soal 'hobi' testpack. Semenjak keguguran yang waktu itu, saya jadi cenderung aware sekaligus khawatir akan kehilangan lagi gara-gara saya telat diberi obat penguat. Walaupun sebenarnya masalah yang waktu itu bukan karena itu sih; memang posisi menempelnya janin yang gak bagus. Tapi pokoknya I dont wanna lose more baby. Saya ga mau telat dapat obat penguat kandungan begitu saya tau saya hamil.

Kembali ke soal siklus tadi.
Lihat kan bagaimana saya mendeskripsikan perasaan terombang-ambing saya sepanjang siklus? Dan ingat hal tsb berulang lho. Belum lagi dibumbui faktor lain semisal iri si Anu anaknya cakep dan lucu, si Ani anaknya udan tiga, atau si Ana anaknya sudah masuk TK. Beugh, tambah lah itu galau. Sehebat apapun saya mengatasi hal tsb, sehebat apapun saya berusaha ikut berbahagia atas kebahagiaan kawan-kawan saya.... Perasaan-perasaan cemas itu masih saja mengalir dalam darah saya. Masuk ke otak. Merusak pikiran dan tubuh saya..

Makanya saya merasa harus bisa ikhlas. Menjadi cemas dan galau dan iri dan lain-lainnya itu tidak membawa kebaikan apapun pada diri saya. Ya kan? Malah bikin bete. Bikin melow. Berpotensi bikin ga mau hidup juga -naudzubillah-

Terakhir, saya berharap lingkungan saya mendukung dan mengerti. Malah sebagian dari diri saya menginginkan orang-orang di lingkaran saya tidak banyak berharap pada saya. Karena saya benci bila tidak bisa mengabulkan harapan tsb.

Saya mau menikmati hidup sebagai wanita yang utuh. Saya ingin menjadi wanita yang tidak rapuh atas suatu keinginan yang tidak dapat terwujud. Dan di atas itu semua..... Saya ingin menjadi wanita yang selalu pandai bersyukur atas setiap takdirNya...

Pondok Gede,
09122015 00:05
Pada minggu ketiga siklus
Dari seorang yang masih menanti dan belajar menanti dalam keikhlasan..

Suami saya

Suami saya, yang kalian kenal sbg Pak Sigit atau Mr S, adalah orang yang menggemaskan. Dia pendiam. Tidak romantis. Cenderung cuek. Tapi penyabar.

Well, sbnrnya saya mau nulis dia itu orang yang adil. Tapi dua kata: suami dan adil, is always connected to... ummm... poligami.

-_________-

Idih, ini apaan sih? Hahaha

Well, here is the thing. We've been growing up in very different family values and cultures. Kadang saya nyerah kalo dituntut untuk ngikutin kedua belah pihak. --Yah sejujurny klo ke pihak keluarga sendiri sih way more easier yah--

Kadang saya berpikir: ya udah lah, kita ga usah sepaket iring-iringan. Ada kamu berarti ada aku. Fleksibel aja. Kalo pas lagi ada perlu yang bersamaan ya kita bagi tugas gitu. Ga mesti saya di keluarga saya, dia di keluarganya. Seperlunya aja. Tapi beliau yang satu ini akan berkata "jangan begitu"

Kadang pengen "rrrrrrhhhh" tapi terikat pada kondisi bahwa istri harus nurut suami ~~hahaha jadi kaya terpaksa begitu :p

Suami saya juga orang yg terbiasa memendam perasaannya. Yang dia pendam biasanya adalah perasaan marah (sama istrinya). Nah, masalahnya, kadang saya ni bebal. Gak sensitif. Gak ngeh kalo dia lagi marah.

Pada saat menyadari hal tsb saya sbrnya dilema loh. Sebenernya kan enak punya suami model begitu, dibandingkan punya suami yg emosi marahnya meluap-luap. Ya kan? Tapi ga enaknya adalah saya jd harus menerka-nerka. Padahal balik lagi, saya tu bebal dan ga sensitif.

Entah sudah seberapa banyak saya nyakitin perasaan dia dengan kebebalan dan ketidaksensitifan saya... T_T

Dan malam ini, saya mengingatkan diri sendiri bahwa sosok lelaki yang selalu berusaha adil dan sabar ini perlu banget banget banget diperhatikan. Saya ga boleh cuek. Bahkan mungkin perlu pasang alarm di HP setiap siang untuk nanyain "kamu udah makan?". Juga alarm pengingat di malam hari untuk mengecek apakah malam itu suami saya sudah makan malam, ada kepingin sesuatu, atau ada kepingin 'senam', gitu?

Yah, semoga beliau yang karakternya selalu memendam perasaan ini bisa memaafkan saya yah.. Semoga langgeng terus. Aamiiiin..

No title

tiba-tiba pengen nulis ini:

Life is always full of stories. The stories of our own and the stories of others... It's kinda amazing (and is always expected to) when every single story we ever had ended up with a beautiful ending. Feels like God loves us so much. But if it is otherwise instead, dont ever think that He does not. He wants us to learn...
And I'm trying to be a good learner.... who sadly have been wasting time for unuseful things. Damn.