Tadi siang seorang teman lama menyapa saya. Tanpa basa basi dja bertanya apakah saya pernah pergi ke dokter kandungan, karena setelah lima bulan menikah dia kok belum hamil juga. Dia jg bertanya apakah saya sudah 'isi' atau belum. Pada saat itu saya yang sedang mengedit soal remedial untuk murid-murid tercinta, hanya tertawa kecil.
Ya jelas saya pernah ke obsgyn. Saya punya miom nebeng hidup di rahim saya. Entah sudah seberapa ukurannya skrg. Banyak kendala untuk rutin kontrol ke dokter (weks alesan!). Dan ya jelas, sekarang saya belum 'isi'.
Yang saya lakukan berikutnya adalah menyemangati. Memberi saran untuk tidak stres. Berkata bahwa anak itu adalah rejeki yang kepemilikannya sudah ada yang mengatur. Mengingatkan bahwa Allah selalu yang paling tahu yang terbaik untuk kita. Mencoba mengungkapkan bahwa bukan punya-anak-atau-tidak yang menentukan kemuliaan kita; toh Aisyah RA tidak memiliki anak, pun begitu tidak berkurang kemuliaan beliau, kan?
Saya sempat tertegun. Bisa-bisanya saya tu ngomong begitu. Kaya ga pernah stres aja sepanjang perjalanan menantikan hadirnya sang buah cinta.
Walaupun... sebenarnya saya sedang berproses untuk mengikhlaskan kondisi bilamana seandainya -naudzubillah- Allah mentakdirkan saya untuk tidak memiliki anak... Hm... Tentu saya tidak akan bisa sehebat Aisyah RA. Jauhhhhhh...
Tapi itu tidak mudah. Pada saat menuliskan paragraf di atas pun dada saya terasa berat. Mata saya panas. Saya belum bisa seikhlas yang saya inginkan..
Tapi saya lelah diombang-ambing perasaan cemas. Diombang-ambing sugesti menyebalkan yang membuat saya sering mual layaknya orang yang tengah hamil muda. Lelah sekali. Saya pengen menikmati hidup dengan lebih santai.
Yang sering sekali terjadi adalah begini: minggu pertama siklus (pas haid) saya berada antara perasaan sedih karena si haid datang, sekaligus senang atas alasan yang sama: si haid datang. Sedih karena berarti bulan tsb saya blm dapat predikat 'ibu hamil', sekaligus senang karena H2C saya berakhir.
Minggu kedua bisa dibilang minggu paling nikmat di antara minggu-minggu yang lain. Emosi saya cenderung stabil. Kesehatan terasa prima.
Minggu ketiga adalah saat dimulainya perasaan-perasaan cemas itu datang. Ovulasi terjadi pada kisaran ini. Emosi saya labil. Pikiran jadi penuh dengan pengharapan sekaligus penolakan untuk berharap karena sudah berkali-kali gagal. Setiap berhubungan hampir selalu diiringi 'mantra' yang siucapkan berulang-ulang di dalam kepala: mudah-mudahan jadi, mudah-mudahan jadi, mudah-mudahan jadi... Bukan hal yang salah sih, tapi saya pikir hal tsb malah bikin saya stres.
Minggu keempat H2C setinggi bukit. Badan rasanya gak enak karena adanya perubahan-perubahan hormonal dalam tubuh. Beberapa saya simpulkan sebagai sugesti semata. Entahlah. Wallahualam. Yang jelas pada minggu ini asam lambung sering menjadi masalah, perut terasa mual, payudara terasa keras dan sensitif, penciuman menjadi lebih sensitif, pikiran juga sensi, dan tenggorokan terasa seperti mau meradang. Seperti gejala orang hamil kan? Padahal itu bs juga adalah gejala PMS. Ya kan? Tapi otak ini selalu berpikir "gara-gara 'isi' kali nih?!". Trus jd semangat. Trus jd down lagi karena toh ini bukan pertama kalinya seperti itu.
Minggu kelima -lumayan sering muncul- artinya haid telat datang. H2C menggila. Meninggi jadi setinggi gunung. Jangan tanya kaya apa rasanya badan ini. Mirip-mirip sama gejala di minggu sebelumnya, hanya saja dengan persentase masalah asam lambung yang memicu mual yang sedikit lebih tinggi. Pada minggu ini setiap detik saya berharap bahwa haid tidak datang karena ada buah cinta tumbuh dalam rahim saya. Tapi semakin berjalannya hari, dengan testpack yang tidak kunjung menunjukkan hasil positif, sebagian hati saya berharap agar haid segera datang dan menghentikan perasaan tak menentu ini.
Dan siklus itu berulang lagi. Dan lagi. Dan lagi... Entah harus sampai kapan...
~~oh ya, sedikit menjelaskan soal 'hobi' testpack. Semenjak keguguran yang waktu itu, saya jadi cenderung aware sekaligus khawatir akan kehilangan lagi gara-gara saya telat diberi obat penguat. Walaupun sebenarnya masalah yang waktu itu bukan karena itu sih; memang posisi menempelnya janin yang gak bagus. Tapi pokoknya I dont wanna lose more baby. Saya ga mau telat dapat obat penguat kandungan begitu saya tau saya hamil.
Kembali ke soal siklus tadi.
Lihat kan bagaimana saya mendeskripsikan perasaan terombang-ambing saya sepanjang siklus? Dan ingat hal tsb berulang lho. Belum lagi dibumbui faktor lain semisal iri si Anu anaknya cakep dan lucu, si Ani anaknya udan tiga, atau si Ana anaknya sudah masuk TK. Beugh, tambah lah itu galau. Sehebat apapun saya mengatasi hal tsb, sehebat apapun saya berusaha ikut berbahagia atas kebahagiaan kawan-kawan saya.... Perasaan-perasaan cemas itu masih saja mengalir dalam darah saya. Masuk ke otak. Merusak pikiran dan tubuh saya..
Makanya saya merasa harus bisa ikhlas. Menjadi cemas dan galau dan iri dan lain-lainnya itu tidak membawa kebaikan apapun pada diri saya. Ya kan? Malah bikin bete. Bikin melow. Berpotensi bikin ga mau hidup juga -naudzubillah-
Terakhir, saya berharap lingkungan saya mendukung dan mengerti. Malah sebagian dari diri saya menginginkan orang-orang di lingkaran saya tidak banyak berharap pada saya. Karena saya benci bila tidak bisa mengabulkan harapan tsb.
Saya mau menikmati hidup sebagai wanita yang utuh. Saya ingin menjadi wanita yang tidak rapuh atas suatu keinginan yang tidak dapat terwujud. Dan di atas itu semua..... Saya ingin menjadi wanita yang selalu pandai bersyukur atas setiap takdirNya...
Pondok Gede,
09122015 00:05
Pada minggu ketiga siklus
Dari seorang yang masih menanti dan belajar menanti dalam keikhlasan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar