Hari ini ketika sedang bertransaksi di koperasi sekolah,
saya terpaksa membayar dengan uang pecahan 100ribu, karena di dompet tidak ada
pecahan yang lebih kecil lagi. Tentunya saya meminta maaf sama penjaga koperasi
karena dengan demikian beliau akan lebih repot mencari kembalian. Saat itu ada
salah seorang murid yang baru saja menyelesaikan transaksinya tepat sebelum
saya. Anak ini biasanya saya kenal sebagai anak yang cukup aktif di kelas,
walopun nilai biologinya bukan yang tertinggi.
Dia menawarkan pada saya, “Saya aja yang bayarin, Miss. Duit
Miss kan besar.” Kaget juga tuh saya. Tapi kemudian saya tolak, “Ga usah, nak,
kamu kan belum kerja. Nanti lah kalo kamu udah kerja baru traktir-traktis saya
ya, jangan lupa!” kata saya setengah bercanda pada bagian akhir kalimat tadi. Tapi
wajahnya bersungguh-sungguh ingin ngebayarin, dompetnya masih dipegang di
tangannya dengan posisi sudah terbuka, uang siap keluar. Saya tolak kembali.
Transaksi saya selesai. Anak tersebut pun sudah kembali ke
kelasnya. Pejaga koperasi lalu bercerita, dengan sebelumnya meminta maaf karena
tidak bermaksud ghibah. Hanya saja dia salut dengan si anak tersebut.
“Dia itu, bu, memang begitu anaknya. Suka mbayarin temannya.
Pernah waktu itu saya menagih hutang koperasi salah satu anak kelas xii,
soalnya hutangnya sudah lebih dari 100ribu. Yang ditagih mah bilangnya ‘iya
pak, besok ya pak’. Nah kebetulan dia (waktu itu masih kelas xi) itu ada di
sini dan denger omongan tadi, bu. Trus sama dia gini ‘ini pak, yang 50rb saya
yang bayarin’. Padahal kalo dia jajan untuk dirinya sendiri dia akan
perhitungan bu. Misal, kalo ada aqua gelas dia ga bakal beli aqua botol soalnya
kan jadi lebih mahal. Gitu.”
Wow. Ternyata saya punya murid yang memiliki sifat luar
biasa seperti itu; sederhana terhadap dirinya sendiri, namun loyal terhadap
orang lain. Semoga kelak kau menjadi pemuda sholeh yang sukses, nak!