Senin, 24 Agustus 2015

Cerita tentang seorang muridku yang baik



Hari ini ketika sedang bertransaksi di koperasi sekolah, saya terpaksa membayar dengan uang pecahan 100ribu, karena di dompet tidak ada pecahan yang lebih kecil lagi. Tentunya saya meminta maaf sama penjaga koperasi karena dengan demikian beliau akan lebih repot mencari kembalian. Saat itu ada salah seorang murid yang baru saja menyelesaikan transaksinya tepat sebelum saya. Anak ini biasanya saya kenal sebagai anak yang cukup aktif di kelas, walopun nilai biologinya bukan yang tertinggi.

Dia menawarkan pada saya, “Saya aja yang bayarin, Miss. Duit Miss kan besar.” Kaget juga tuh saya. Tapi kemudian saya tolak, “Ga usah, nak, kamu kan belum kerja. Nanti lah kalo kamu udah kerja baru traktir-traktis saya ya, jangan lupa!” kata saya setengah bercanda pada bagian akhir kalimat tadi. Tapi wajahnya bersungguh-sungguh ingin ngebayarin, dompetnya masih dipegang di tangannya dengan posisi sudah terbuka, uang siap keluar. Saya tolak kembali.

Transaksi saya selesai. Anak tersebut pun sudah kembali ke kelasnya. Pejaga koperasi lalu bercerita, dengan sebelumnya meminta maaf karena tidak bermaksud ghibah. Hanya saja dia salut dengan si anak tersebut.

“Dia itu, bu, memang begitu anaknya. Suka mbayarin temannya. Pernah waktu itu saya menagih hutang koperasi salah satu anak kelas xii, soalnya hutangnya sudah lebih dari 100ribu. Yang ditagih mah bilangnya ‘iya pak, besok ya pak’. Nah kebetulan dia (waktu itu masih kelas xi) itu ada di sini dan denger omongan tadi, bu. Trus sama dia gini ‘ini pak, yang 50rb saya yang bayarin’. Padahal kalo dia jajan untuk dirinya sendiri dia akan perhitungan bu. Misal, kalo ada aqua gelas dia ga bakal beli aqua botol soalnya kan jadi lebih mahal. Gitu.”

Wow. Ternyata saya punya murid yang memiliki sifat luar biasa seperti itu; sederhana terhadap dirinya sendiri, namun loyal terhadap orang lain. Semoga kelak kau menjadi pemuda sholeh yang sukses, nak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar