Hai, saya Diyan, istri dari seorang lelaki pilihan saya yang bernama Sigit. Jadi, sejak setahun lalu saya mulai harus membiasakan diri dipanggil dengan panggilan Bu Sigit.
Suami saya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Yap, anak bungsu. Usia suami saat menikah sudah 37 tahun, jadi bisa dikira-kira sendiri lah usia orang tua mas suami ini yah. Hehe. Sedikit petunjuk, kedua mertua saya sudah beberapa tahun menjalani pensiun. Papa mertua pensiunan Angkatan Udara, sementara Mama mertua pensiunan kepala sekolah SD. Satu kesimpulan yang logis dari deskripsi tersebut adalah mereka sudah cukup sepuh.
Kakak semata wayang suami sudah jauh lebih dulu berkeluarga dan menempati rumah di kota yang sama, hanya berbeda kecamatan saja. Tapi bagaimana pun pisah-rumah is pisah-rumah. Tetap saja mama dan papa mertua terkategorikan sebagai "hidup sendiri" seandainya kami pun keukeuh pisah-rumah.
Menyadari bahwa mereka adalah jalan menuju surga bagi suami, maka di sini lah saya, bersama dengan mereka hidup sepagar sekaligus seatap. Cuma agak enaknya ini rumah punya satu sisi yang berupa sebuah kamar plus sebuah kamar tidur mandi plus sebuah kamar serbaguna dengan akses ke teras langsung. Agak-agak seperti paviliun lah. Tapi tetap saja, serumah is serumah. Dengan pelangi yang menghiasi hari-hari di sini. Eng, mendung juga sih kadang. Hehe.
Padahal kalau mau balik ke masa masih jadi jomblowati, duh saya mah ga lupa dah untuk berdoa semoga ga usah ngerasain tinggal di pondok mertua indah, alias PMI. Tapi mengingat ada doa lain yang saya hobi baca "Rabbi anzilni munzalan mubaarokan wa anta khoirul-munziliin" yang artinya "Yaa Tuhanku, tempatkan lah hamba di tempat yang berkah, Engkaula sebaik-baik pemberi tempat", jadi saya tetap meyakini bahwa this is the right place. Tuhan tidak pernah salah menempatkan. Bukannya Dia tidak mengabulkan permohonan saya, Dia malah hendak memberikan yang terbaik. Saya yakin itu.
Tapiiii... bukannya saya gembira ria ya tinggal di PMI ini. Hehe. Da saya mah manusia biasa yang penuh salah dan lupa. Secara jujur saya akan bilang bahwa tinggal di rumah ortu saya lebih enak. Bahkan tinggal di rumah kontrakan petakan mungkil mungkin lebih saya sukai. Namun kondisinya sekarang bukan begitu. Ya udah, dijalani aja. Biar bagaimana pun mereka (mertua) adalah surganya suami. Insya Allah surga saya juga. Aamiiin..
Saya menduga yang menjadi reader posting ini adalah mereka yang akan menikah dengan konsekuensi ikutan berupa keharusan tinggal di PMI, atau mereka yang memang sudah berada di posisi saya dan sedang mencari teman senasib. Hehe.
Masuk kategori manapun kamu, saya mau cerita dari sudut pandang saya. Pengalaman kita sangat bisa berbeda. Tentu saja ya, karena pada dasarnya apa yang kita alami di PMI akan tergantung pada beberapa hal
Suami saya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Yap, anak bungsu. Usia suami saat menikah sudah 37 tahun, jadi bisa dikira-kira sendiri lah usia orang tua mas suami ini yah. Hehe. Sedikit petunjuk, kedua mertua saya sudah beberapa tahun menjalani pensiun. Papa mertua pensiunan Angkatan Udara, sementara Mama mertua pensiunan kepala sekolah SD. Satu kesimpulan yang logis dari deskripsi tersebut adalah mereka sudah cukup sepuh.
Kakak semata wayang suami sudah jauh lebih dulu berkeluarga dan menempati rumah di kota yang sama, hanya berbeda kecamatan saja. Tapi bagaimana pun pisah-rumah is pisah-rumah. Tetap saja mama dan papa mertua terkategorikan sebagai "hidup sendiri" seandainya kami pun keukeuh pisah-rumah.
Menyadari bahwa mereka adalah jalan menuju surga bagi suami, maka di sini lah saya, bersama dengan mereka hidup sepagar sekaligus seatap. Cuma agak enaknya ini rumah punya satu sisi yang berupa sebuah kamar plus sebuah kamar tidur mandi plus sebuah kamar serbaguna dengan akses ke teras langsung. Agak-agak seperti paviliun lah. Tapi tetap saja, serumah is serumah. Dengan pelangi yang menghiasi hari-hari di sini. Eng, mendung juga sih kadang. Hehe.
Padahal kalau mau balik ke masa masih jadi jomblowati, duh saya mah ga lupa dah untuk berdoa semoga ga usah ngerasain tinggal di pondok mertua indah, alias PMI. Tapi mengingat ada doa lain yang saya hobi baca "Rabbi anzilni munzalan mubaarokan wa anta khoirul-munziliin" yang artinya "Yaa Tuhanku, tempatkan lah hamba di tempat yang berkah, Engkaula sebaik-baik pemberi tempat", jadi saya tetap meyakini bahwa this is the right place. Tuhan tidak pernah salah menempatkan. Bukannya Dia tidak mengabulkan permohonan saya, Dia malah hendak memberikan yang terbaik. Saya yakin itu.
Tapiiii... bukannya saya gembira ria ya tinggal di PMI ini. Hehe. Da saya mah manusia biasa yang penuh salah dan lupa. Secara jujur saya akan bilang bahwa tinggal di rumah ortu saya lebih enak. Bahkan tinggal di rumah kontrakan petakan mungkil mungkin lebih saya sukai. Namun kondisinya sekarang bukan begitu. Ya udah, dijalani aja. Biar bagaimana pun mereka (mertua) adalah surganya suami. Insya Allah surga saya juga. Aamiiin..
Saya menduga yang menjadi reader posting ini adalah mereka yang akan menikah dengan konsekuensi ikutan berupa keharusan tinggal di PMI, atau mereka yang memang sudah berada di posisi saya dan sedang mencari teman senasib. Hehe.
Masuk kategori manapun kamu, saya mau cerita dari sudut pandang saya. Pengalaman kita sangat bisa berbeda. Tentu saja ya, karena pada dasarnya apa yang kita alami di PMI akan tergantung pada beberapa hal
- Sifat dasar kita sebagai menantu. Apakah kita cenderung easy going, atau perasa, atau pemberontak.
- Sifat dasar keluarga mertua. Saya memang hanya tinggal dengan mertua saja, tapi mungkin ada yang serumah isinya ada saudara-saudara ipar atau bahkan keponakan-keponakan. Dan tentunya tiap kepala punya sifat yang berbeda. Panjang lah kalau dijabarkan.
- Sikap suami/istri. Mereka yang menarik kita ke kehidupan keluarga mereka, maka sikap mereka akan banyak menentukan "rasa" dari tinggal di PMI.
- Support orang tua kita. Ini penting banget dan pengaruh banget. Ada orang tua yang akan semampunya memberi pemahaman untuk kita bisa menikmati hari-hari di PMI, tapi ada juga yang malah mempengaruhi untuk get out aja dari situ.
- Lingkungan rumah mertua. Ini termasuk tetangga-tetangganya lho. Kenapa? Karena bisa jadi mereka sudah lebih lama kenal dengan keluarga mertua kita. Bisa jadi mereka menjelma sebagai tim supporter kita atau malah tim viliant yang menghembuskan aroma gak sedap melalui ucapan-ucapan ga enak yang terlontar. Kalo kamu cukup kuat, sebenernya kamu bisa mengabaikan mereka yang ada di golongan kedua. Hehe
- Kondisi ekonomi keluarga mertua. Siapa tulang punggung di keluarga tersebut, berapa banyak pengeluaran mereka, seberapa besar mereka butuh support kita. Ini ngaruh banget.
Yang paling enak adalah kalo kamunya easy going, keluarga mertuanya juga easy going dan ga terlalu rame(banyak rakytnya), suami/istri kita bisa seimbang antara sayang sama keluarga dan sayang sama kita, orang tua kita bisa memberi masukan yang baik, plus didukung lingkungan yang nyaman dan supportive. Kalo gak gitu? Saran saya dijadiin begitu aja. Kadang harus kita yang ngalah untuk memendam perasaan. Tapi tetep komunikasikan jika ada ganjalan apapun ke pasangan kita. Kalo urusan ekonomi tinggal kita aja yang nyesuaian, gak jadi beban, dan sebisa mungkin membantu.
Yang saya alami di sini adalah kondisi yang (juga) tidak ideal seperti yg saya sebutkan di atas. Tapi untungnya ada suami yang mau mendengarkan dan nenangin saya. Tapi tetep yah, ada aja perasaan ga nyaman. Misalnya nih mama saya tu hobi banget masak tapi karena dasarnya beliau tu wanita yang mandiri banget, saya nya malah jadi suka bingung mau ngapa-ngapain terkait dapur karena semua akan jadi "udah mama aja". Belum lagi sifat perfeksionis mama mertua terkait makanan dan dapur, jadi lah apa yang saya kreasikan belum tentu disentuh olehnya. Trus gimana saya nyikapinnya? Crate my own peace. Toh enak tinggal makan, enak pula. Kalo lagi pengen berkreasi di dapur ya udah, bikin aja yang memang saya atau suami suka, lalu habiskan bersama. Tentunya bukan atas dasar ga-mau-bagi-bagi, tapi tidak memaksakan bahwa mereka harusmenerima apa yang saya buat. Take it easy aja, suka ya silakan ayuk kita makan sama-sama, gak suka ya udah sini saya yang habiskan. Hehe
Contoh lagi misalnya dalam pengeluaran rumah tangga. Kembali lagi ke sifat dasar mertua yang mandiri, mereka tu ga mau ngerepotin anak-mantu untuk urusan semisal gaji pembantu, bayar listrik, belanja bulanan, dll. Mungkin juga atas dasar bahwa suami saya pun belum dalam kondisi bisa memberi lebih. Kalo kamu ada di situasi yang sama kaya saya, kamu bagaimana? Kalo saya mah lagi-lagi create my own peace. Kalo memang keukeuh maunya begitu ya udah, saya cari celah sisi lain di mana saya dan suami bisa membantu keluarga ini. Intinya jangan keenakan, gitu. Misalnya kita lagi belanja, ya belanjain untuk mereka juga. Kalo beli makanan ya ga beli buat berdua doank, tapi beli untuk sama-sama. Atau bisa juga dalam bentuk ngasihnya ke keluarga yang lain, misalnya cucu mereka.
Nah, kalo terkait dengan omongan tetangga atau lingkungan lain di sekitar mertua, coba ambil positifnya aja. Kasus saya pernah saya diceritain pembantunya mama dan tetangganya mama bahwa mama ga suka kalo saya dan mertua pergi jalan-jalan, foya-foya lah (padahal jalan-jalanya super ngirit, hehe). Saya mah senyum aja, toh di depan saya mama sekaligus papa mertua tidak pernah melarang dan malah menyatakan dukungan. Itu aja yang saya "bungkus", apa yang diomongin di belakang saya itu di luar kapasitas dan tanggung jawab saya. Abaikan aja, demi terbentuknya my own peace. Bukannya saya ga sayang sama mereka lho, tapi kalo dipikirin banget-banget yang ada nanti saya minggat lagi. Hehe. Lagipula saya pun tidak memiliki kemampuan untuk memvalidasi omongan mereka yang ada di lingkungan kami. Jadi : yang saya dengar secara langsung adalah yang berlaku. Titik.
Yang lain-lain tinggal kita yang adjust, biat bagaimana pun kan kita yang orang baru di situ. Saya pernah dicurhatin temen bahwa suaminya ga suka diajak nginep di rumah keluarganya (berarti suami sebagai mantu dan ortu istri sbg mertuanya) karena di sana sering ngomongin orang, dan si suami ga suka. Secara pribadi saya bilang bawha ga seharusnya begitu. Ketika kita menikahi pasangan kita, kita sudah terikat kontrak menerima dia sekaligus keluarganya. Sekali lagi, kita yang harus adjust alias menyesuaikan diri. Dalam hal ini bukan berarti kita jadi ikut-ikutan suka bergosip, tapi kita cari cara suapaya mereka teralihkan dari bergosip. Banting setir topik obrolan adalah yang sering saya lakukan. Kalo udah ada tanda-tanda kitanya yang ga kuat, kita aja yang undur diri, balik ke kamar. Cari kesibukan di kamar.
Duh, udah saatnya masuk dapur bersama mama mertua tercinta untuk nyiapin hidangan berbuka puasa nih. Segitu aja dulu dari saya. Monggo diberi masukan buat saya yang masih harus banyak belajar. Hayuk juga untuk yang mau saling curhat. Hehe.
Salam damai ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar