Sabtu, 21 Januari 2017

Mama umroh

Sebagai anak yg masih nebeng sama orang tua, dalam kasus saya berarti mertua, banyak banget kemudahan yg diperoleh. Paling gak, biasanya saya gak masak. Haha :D
.
Mamer, alias mama mertua, adalah wanita yg hobi masak. Masakannya enak karena standarnya dia lumayan tinggi. Bukan soal standar jenis makanan yg harus mewah, tp soal pemilihan bahan dan bumbu. Mamer anti banget pake bumbu instan, santan instan, juga pewarna makanan instan. Bisa dibayangkan gimana lidah kami jadi terbiasa dgn hidangan ala mamer yang "terstandar" itu? Hehe
.
Hari minggu 21 Januari 2017, mama berangkat umroh. Sendiri? Gak. Berdua sama istrinya kakak ipar. Artinyaaa... tinggal daku seorang lah wanita dewasa yg menjadi tumpuan harapan perut-perut para lelaki dan anak-anak di sini: papa mertua, suami, kakak ipar, dan keponakannya suami.
.
.
.
Gimanaaa iniiiii??
.
.
.
Haha halah lebay. Cuma seminggu doank kok.. Dan lagipula bukan mamer namanya kalo pergi lama tanpa menimbun bahan makanan di kulkas. Sebut saja empal gepuk yang udh tinggal goreng, ayam ungkep yg juga tinggal goreng, juga semur daging yang pada hari keberangkatan mama isinya tinggal separo. Belum lagi teri-kacang yang sudah diamankan dalam toples dgn dua versi: dengan cabe dan tanpa cabe. Trus ada juga bawang goreng, emping, kerupuk... Aman lah.. Hehe..
.
Tapi justru sbnarnya sebagai penguasa-dapur-sementara, saya nih dapat kesempatan utk bereksperimen di dapur mama.
.
Ini dia...

===

#Day 1 (Minggu 22 Jan)
Pagi-pagi aku n Mr S jogging. Ga jauh-jauh sih cuma keliling komplek sekitaran SMA 5 Bekasi. Kira-kira satu jam lah termasuk mampir di warung beli bahan makanan.
- kacang panjang dua ikatan kecil, isinya palingan cuma 10 lenjer.
- toge 2rb
- kol seperempat buah
- wortel 2 buah
- tahu coklat satu kantong isi 10
- kulit lumpia/martabak
- royco ayam sebiji supaya belanjaannya genap 15rb.
.
Iya belanjanya cuma 15rb. Tapi bisa jadi tumis kacang panjang semangkok, tahu isi 10biji, dan martabak telor 10biji. Kalo beli mateng mah ga dapet tuh 15rb. Oh betapa murahnya kalo masak sendiri. Hehehe..
.
So, sampai di rumah aku masak nasgor dulu. Laper oi abis jogging. Haha. Habis itu nyiangin isian tahu isi plus bakwan. Lalu numis setengah layu isian tahu isi sekalian diisiin ke tahunya, dan ngadonin bakwan. Habis itu baru numis kacang panjang.
.
Onde mande.. begitu saja rasanya sudah capek. Hahaha. Ya tapi gapapa. Bakar kalori lah ya soalnya masak di dapur mama berarti sepaket dgn ngembaliin-dapur-mama-sekinclong-biasanya.

Jumat, 06 Januari 2017

Selingkuh (?!)

Sebenarnya, saking bencinya sama kata yg kugunakan sbg judul tulisan ini, aku paling merasa ogah-banget hal tsb. Ga bisa ngebayangin berada di posisi sbg orang yg diselingkuhin. No no.. na'udzubillah...

Tapi hal tersebut nyata dan benar-benar ada di kehidupan sekitar kita. Astaghfirullah... Na'udzubillahi min dzaliiiik...

===

Suatu hari, seorang kawan bercerita begini:

Kawan: Ingat si Bunga (sebut saja namanya demikian) kan?
Aku: yang katanya punya pacar orang calon angkatan itu kan?
K: Iya. Maaf ya aku jadi cerita ke kamu. Soalnya aku dicurhatin dan kasian sama tu anak. Tapi gimana, aku bingung juga kasih solusinya..
A: loh? Bunga kenapa? *cemas
K: jadi kemarin dia cerita kalo pp BBM cowoknya itu foto si cowok itu sama cewek lain
A: loh?
K: Bunga tanya baik-baik sama cowoknya itu. Eh malah si cowok itu bilang kalo dia udah ga bisa mempertahankan LDR-an sama si Bunga..

Seketika aku... speachless..

Walaupun aku gak kenal Bunga sedekat aku mengenal Kawanku tsb.. Aku tau cerita mereka, aku tau kenapa mereka LDR-an. Aku tau bangganya si Bunga punya pacar keren seorang calon tentara.

OK, itu mereka baru level pacaran. Ga ada pertimbangan soal anak. Penilaian masyarakat. Dll..

Dan aku yang malah kesal diceritain begitu, malah bilang...

"Udah bilangin Bunga. Mending bersyukur ketahuannya sekarang bukan pas udah nikah. Mending fokus kuliah. Lulus. Mencari masa depan. Insya allah kalo Bunga tu wanita baik maka akan berjodoh sama lelaki yang baik, bukan cowok sok keren macam orang itu!"

Aku galak. Iya kalo soal beginian aku ga tahan utk gak galak. Tapi galak ya di mulut saja. Kerongkonganku tercekat, mataku menahan bulir bening yang hampir tumpah.

Di satu sisi aku ikut bersedih atas luka yg dialami si Bunga, di sisi lain aku sungguh-sungguh dgn perkataanku bahwa seharusnya dia bersyukur.

===

Di lain waktu, ketika aku pun sudah menikah, seorang Istri, sebut saja namanya Bu Mawar, bercerita:

Bu Mawar: Duh, si Bu Melati (nama samaran juga) telepon terus. Mana kalo telepon lama banget. Ga diangkat ga enak. Kemarin aku sampe telat ngantor krn si bu Melati nelpon pagi-pagi pas aku lagi siap-siap mau berangkat
Aku: ya mau silaturrahim aja kali.. kan skrg tinggalnya jauhan kita sama bu Mel.
I: ya kalo yg diceritain masalah keluarga kan kikuk juga sayanya.

Lalu, tanpa saya minta, berceritalah si Bu Mawar ini...

Bahwa suami Bu Mel mengaku pada Bu Mel telah menjalin kontak lagi dengan mantannya yang dulu. Bahkan "lebih dari itu". Aku gak punya nyali utk bertanya apa makna dari frasa "lebih dari itu". No, aku mau menjadi pendengar saja.

Di satu pihak Bu Mel merasa dikhianati dan hancur hatinya. Tapi di sisi lain masih bersyukur bahwa suaminya itu sudah jujur mengaku, meminta maaf, dan berjanji utk tidak meninggalkan bu Mel.

Dari pihak suami Bu Mel sendiri juga ternyata pernah curhat sama suami Bu Mawar bahwa dia ga tahan istrinya cerewet betul. Sampai puncaknya adalah pernah Bu Mel bilang "kamu itu jadi laki-laki ga pernah bisa bahagiain aku!". Aku bayangkan perasaan suami Bu Mel pasti tersingung mendengar kalimat tsb.

Saat itu aku cuma bisa tanya,
"Sudah Bu Mawar nasihati apa Bu Mel-nya?"
Aku bingung mencari tanggapan lain.

Kata Bu Mawar, "Aku bilang supaya dari pihak dia juga introspeksi.. banyak memperbaiki diri.. suami dibaikin jangan digalakin terus.. suami dilayani kebutuhannya dengan baik.. saya bilang ke dia bahwa saya juga pernah ada di posisi itu! Jadi saya tau bagaimana rasanya dan bagaimana kita sbv istri harus berbuat!"

Hah? Saya melongo. Ini kenapa malah jadi DUA kisah pahit yg mampir di telinga saya?!

Lalu, lagi-lagi tanpa saya minta, Bu Mawar bercerita tentang bagaimana dia berhasil mengetahui bahwa suatu hari suaminya janjuan dgn wanita lain. Dan bagaimana dia membuat suaminya terpaksa membatalkan janji tsb dgn cara minta ditemani ke suatu tempat. Juga bagiaman dia akhirnya berkata pada suaminya,
"Aku tau mas ada janji dgn wanita lain saat ini. Gak usah kaget. Aku tau. Sekarang begini. Mas punya pensiun dan di rumah ada motor. Silakan mas pilih masih ingin dengan aku atau wanita tsb?! Kalo mas memilih wanita tsb, silakan mas tinggalkan rumah ini dan bawa motor serta uang pensiun mas! Rumah dan mobil atas namaku jadi aku yang berhak!"

Jedddderrrrrr!! Serasa disambar petir. Bu Mawar dan suami yg kami ketahui tdk pernah ada masalah dan langgeng-langgeng saja ternyata... Duh Gusti Nu Agung... ada berapa banyak lagi kah pasangan yang kelihatannya baik-baik saja namun mengalami cobaan seberat itu?!

Pembaca menyimak tulisan saya kan? Membaca kata 'pensiun' di kalimat kutipan Bu Mawar kan? Bisa pembaca bayangkan sebenarnya sudah seberapa lama bu mawar dan suami berkeluarga? Sudah berapa umur mereka? Sudah seberapa besar anak-anak mereka? Saya rasanya tercekik. Tidak bisa berkata apa-apa.

Bu mawar lalu melanjutkan bercerita bahwa suaminya akhirnya meminta maaf. Dan dengan kebesaran hati Bu Mawar maka dianggapnya sudah, masalah cukup sampai di situ. Tidak perlu anak-anak mereka tahu. Dan dia pun bercerita bahwa setelah itu dia tetap melayani suaminya seperti biasa. Biar bagaimanapun, menurutnya, ada hal yg harus dia jadikan bahan introspeksi.

Cerita beralih ke suatu saat, entah bagaimana mulanya, dan atas kebetulan belaka kah atau apa aku gak ngerti, posisinya aku sdg ngobrol dengan bu mawar dan suaminya. Bertiga. Awalnya ngobrol ngalor ngidul. Ketawa ketawa. Lalu tiba-tiba obrolan mengarah ke persoalan bu melati dan suami.

Bu Mawar: kan aku udah nasihatin dari sisi sbg istri. Mas donk sbg suami menasihati suaminya
Suami Bu Mawar: ya bagaimana lagi, menurutku sbg suami dia sudah melakukan hal maksimal yg bs dia lakukan
Bu mawar: yah mas sih sama aja sama suami bu melati..
Aku: ya mungkin sebaiknya kita juga ga baik terlalu banyak ikut campur masalah internal orang lain..

===

Tiga kisah dari penggalan kehidupanku. Tiga kisah yang membawa perenungan...

Sesungguhnya tidak ada istri yang sempurna, pun sebaliknya tdk ada suami yg sempurna. Yang bisa kita lakukan hanyalah terus memperbaiki diri dan menebar pupuk yang bisa membuat benih cinta yang pernag ditanam berdua dengan pasangan kita menjadi semakin mekar dan subur.

Menurutku, yg baru hampir tiga tahun berumah tangga, rasa saling menghormati mestilah terus dijaga. Istri menghormati suami dgn tidak berkata yg menyakiti dan menjatuhkan harga diri suami sbg laki-laki. Suami menghormati istri dgn memandang istri sbg sosok wanita yg harus dia jaga perasaannya dan dia kasihi.

Pernah suatu saat ada teman yg bilang "biasanya jika orang pacaran selingkuh dgn yg lain, paling mereka hanya jalan atau makan atau nonton berdua di belakang si pacarnya, karena ya begitulah kehidupan orang pacaran. Tapi kalo suami/istri selingkuh, kan tau sendiri kehidupan orang yg berumah tangga. Lebih dari sekedar jalan, nonton, atau makan!"

Astaghfirullah.. astaghfirullah.. astaghfirullah... wa na'udzubillahi min dzaliiik...

Manusia memang tidak pernah ada puasnya. Rumput tetangga memang lebih hijau dari rumput pekarangan sendiri. Tapi, bukankah hidup tdk sekedar mencari kenikmatan duniawi semata? Ingat kah bahwa mendekati zina saja dilarang oleh agama.. apalagi...

Belum lagi soal perasaan anak. Aku gak bisa ngebayangin seandainya hal spt itu terjadi pd orang tuaku. Apa yg akan aku lakukan? Akankah aku tetap bisa menghormati mereka berdua, terutama pihak yg berselingkuh? Rasanyaaa... ah, gak mau mbayangin lah.. tapi ya rasanya akan hilang rasa hormatku. Entah.. Aku lebih memilih tdk pernah mengalaminya. Na'udzubillah...

===

Kutatap suamiku saat kami sedang bersenda-gurau bersama. Dalam diam dan mata yg masih mengarah kepadanya, aku berdoa supaya kami tidak pernah menghadapi masalah tsb. Ada atau pun tidak ada anak di tengah kehidupan kami.

Mr S: kamu kenapa? Kok tiba-tiba diam sambil liatin aku? Jadi geer nih!
Aku: gak apa-apa mas. Cuma berdoa supaya sampai kita tua-tua nanti kita tetap terud bercandaan kaya begini

Cup! Mendaratlah sebuah kecupan di keningku. Senyumku merekah..

===

Siang ini ada sebuah broadcast kuterima di wa-ku. Isinya kok ya terkait hal yg sedang menggelayuti kepalaku.. semoga bisa menjadi pelajaran bersama..

KAU TAU KAN DIA PUNYA ISTRI?

Padat penuh sesak penumpang di Transjakarta membuat saya hampir tak berjarak dengan penumpang lainnya.

Sekilas terdengar percakapan 2 orang perempuan berusia sekitar 21-25 th, sebetulnya saya nggak bermaksud nguping,  tapi ya karena deketnya jarak saya dengan mereka berdua membuat saya terpaksa mendengarkan percakapan mereka *sebenernya sih penasaran juga 😂

Si A: Kemaren gue di telp sama mas D,  dia ngajakin ketemuan,  terus aku bilang,  gue nggak mau, mas belom transferin aku bulan ini,  kalau mau ketemu ya transfer dulu..

Si B: Terus cowok lu gimana?

Si A: Terus dia jawab,  iya mas nanti transfer,  tapi besok ketemuan ya,  gitu..  Hahahah, gue selalu pake cara gitu kalau mau minta duit. *tertawa bangga

Si B: Hahaha dasar lu yaaa...  Eh kalau gue kemarin kan nelp mas C,  iseng aja gue,  terus dia ngangkat telp gue dong,  tapi jawabnya aneh,  "iya pak,  barang sudah saya kirim,  nanti saya kabari lagi progressnya", hahahahah gue ketawa ngaaaakak aja,  biasanya kalau dia jawabnya aneh gitu pasti disampingnya lagi ada istrinya. 

Si A: Nekat luuu,  kalau ketahuan istrinya gimana coba?  Hahahah

Si B: Biarin aja sih,  hahahah

Dan saya,  saya malu dengernya,  saya sakit dengernya,  memposisikan diri sebagai perempuan, kenapa ada perempuan yang tega menyakiti perempuan lainnya?  Dan sebagai istri,  tak terbayang gimana sakitnya jika saya diposisi istri yang dibohongi. 

Arrgggh.. ..  Terbesit penyesalan kenapa saya harus mendengarkan percakapan gila ini,  seketika mood saya anjlok,  ill feel ga jelas padahal kenal juga enggak..

Tapi hikmah yang saya ambil dari kejadian ini,  saya memahami bahwa terjadinya perselingkuhan bukan melulu soal laki-laki hidung belang mencari sasaran,  tapi juga karena adanya peluang yang diberikan si perempuan yang memberikan kode kesempatan.

See?  Mereka tau dan sadar bahwa pasangan mereka telah memiliki keluarga,  memiliki istri dan anak yang harus mereka jaga.  Tapi dengan sangat sengaja mereka menjalin hubungan tanpa rasa bersalah didada.  Mereka merasa lebih tertantang dengan hubungan diam-diamnya,  karena dia merasa bahwa persaingan ini akan membuatnya bangga saat ia telah memenangkannya.

Jangan..  Jangan murahkan hargamu dengan cara seperti itu..
Kau masih punya banyak kebaikan untuk kau banggakan.
Menyakiti perempuan lain dengan kecurangan hanya akan membuatmu terlihat murahan.
Padahal,  laki-laki yang kau perebutkan berpotensi berbuat kecurangan lain di belakang.

Jangan..  Jangan menyakiti sesama perempuan.
Karena kau tahu benar sesaknya dada saat kesetiaan terabaikan.
Terlebih lagi,  ada masa depan anak-anak yang dipertaruhkan.

Ingatlah,  ingat...
Kau juga akan menjadi seorang ibu, 
Ibu dari anak-anakmu yang mendambakan keluarga utuh..
Tega kah kau saat kebahagiaan mereka terengkuh?
Oleh keegoisan perempuan lain yang ingin merebut ayahnya dengan bersikukuh.

Teruntuk seluruh suami di luar sana..

Mari..  Mari menimbang rasa..
Berfikirlah jernih dengan segala pertimbangan yang ada,
Keluarga mu adalah satu-satunya harta yang patut diperjuangkan dengan segala upaya,
Karena "keasyikanmu" ini hanyalah bersifat sementara, yang akan segera hilang sesaat setelah dompetmu menganga, atau saat rasa penasarannya sudah menguap ke udara.

Karena..
Laki-laki sukses tidak akan mampu membeli perempuan yang baik.
Tapi,  perempuan baik dapat mengantarkan laki-lakinya menjadi orang yang sukses

===

Semoga Allah yg Maha Pengasih dan Penyayang menganugerahkan kita dan pasangan kita cinta kasih yang penuh kedamaian dan membawa kita ke surga.. Aamiiiin...