Senin, 30 November 2015
SOAL YANG TERTUKAR
Rabu, 25 November 2015
Menyimpan Makanan di Kulkas
Semalam, sekitar pukul 1, aku terbangun. Teringat makanan di meja yang belum dimasukkan ke dalam kulkas. Saat aku beranjak ke dapur, kudapati Mr S, suamiku tercinta, masih bangun dan masih asik menonton TV. Kusapa lelakiku itu.
"Belum tidur mas?"
"Bagus nih filmnya. Kamu kenapa kebangun?"
"Inget makanan belum disimpan di kulkas"
"Oh, udah kumasukin kulkas kok tadi"
Wah, senangnya. Pengertian sekali suamiku.
Maka aku ke dapur untuk memastikan meja makan telah kosong karena isinya sudah tersimpan aman di dalam kulkas. Dan memang benar kok, meja makan sudah bersih. Tudung saji sudah menangkring manis di cantelannya di tembok. OK sip. Mari tidur lagi.
Pagi pun menjelang. Setelah solat subuh aku ke dapur untuk mencuci piring-piring bekas makan semalam. Suamiku-yang-sangat-pengertian itu pun kulihat sedang menggenggam gagang pel teras. Pengertian sekali memang. Untukku yg berjilbab, kadang malas harus cari jilbab dulu utk ngepel depan. Alhamdulillah. Terimakasih Allah atas suami yang pengertian..
Cucian piring beres. Teh untuk suami sudah terhidang. Aku pun pergi menemui suamiku tercintah utk bertanya "mau sarapan apa mas?"
"Nasi goreng"
Ok. Persiapan nasi goreng pun di mulai. Bumbu siap. Nasi sudah dikeluarkan dari dalam magic jar. Telur sudah diambil dari dalam kulkas. Apa lagi ya? Oh ya, aku punya bakso di freezer kulkas. Enak kayanya pake bakso.
Maka aku pun melangkah lagi ke kulkas. Kulkas milik mama ini adalah kulkas 2 pintu. Sehingga untuk mengakses freezer aku harus membuka pintu yg sebelah atas.
Kubuka pintu freezer itu.
Mau pingsan rasanya.
Ada mangkok poselen mama di sana. Isinya sayur semalam. Juga pinggan-pinggan lauk.
Jadi yang dimaksud suamiku dengan sudah-dimasukkan-ke-kulkas itu adalah... SUDAH DIMASUKKAN KE FREEZER!
Ya gapapa sih. Bukan kesalahan yg fatal-fatal amat. Tapi jadi repot ngangetinnya karena perlu di-unfreeze dulu kan? Dan itu bukan hal yang biasa kan?
Pantesan waktu ngambil telur di kulkas, ni mata gak ngeh klo ada mangkok sayur dan pinggan lauk di dalam kompartemen lemari pendingin tsb. Karena emang beneran ga ada. Duh!
Passss saat aku masih syok-syok-nya, Mr S suamiku tercintah menongolkan batang hidungnya di dapur. Langsung nyengir. Gemes deh.
Dan akhirnya, memang butuh waktu beberapa lama untuk membuat makanan itu siap dihangatkan. Orek tempe yang parah. Pas diangetin jd hancur bentuknya. Potongan tempenya jd semakin kecil.. dan... absurd. Ya sudah lah. Tempe is tempe. Tetep enak kok.
Lesson learned: cek dengan seksama KE DALAM KULKAS saat suami bilang "sudah dimasukkan ke kulkas kok"
Selasa, 17 November 2015
Maskeran yuk!
Ceritanya kemarin lalu ada teman di grup whatsapp yang tanya "gimana sih biar muka gak kusam?" Lalu dijawab lah oleh teman-teman grup --> maskeran aja!
Jadi ngebatin sendiri; iya yah, kapan ya terakhir kali maskeran? Hehehe
Maka dari ituu semalam pas nemenin Mr S beli obat buat Papa yg lagi pilek, trus di toko obat ada masker, yg akhirnya kubeli itu, sedang bergelantungan. Serasa seperti sedang dipanggil-panggil. "Belilah aku.. belilah aku.. belilaaah..."
Akhirnya dikubeli lah itu masker. Merk Oval. Instan, enak gak usah dicairin lagi. Langsung oles di muka.
So, begitu sampe rumah, langsung bersihin muka (pake sabun muka, soalnya segala lotion pembersih udah abis. Hehehe). Trus buka bungkusan maskernya. Gampang tinggal sobek pake tangan. Terus colek-colek deh pake jari, langsung olesin ke muka.
Pas masih basah, rasanya ademmmm... Seger banget di muka. Hehe
Trus setelah beberapa menit (gak liatin jam, asik nonton tipi), kering lah itu masker. Langsung bersihin pake waslap dibasahin.
Trus pas liat kaca.. Wweeeeessss mukaku kinclong! Hahahaha
Beneran, muka keliatan lebih cerah, dingin-dingin kenyal gitu. Enak deh pokoknya.
Entah ya itu karena maskernya baruu aja dilunturin apa bakal bertahan begitu. Taoi kayanya tetep deh, perlu konsisten nih, seminggu sekali enak kayanya.
^^
Kamis, 12 November 2015
Tentang DHD-ku
Aku ga terlalu ingat persis awal mulanya bagaimana. Yang kuingat suatu sore Ibundo pulang kantor membawa beberapa potong pakaian. Biasa lah, euforia baju baru untuk lebaran, kan waktu itu aku masih kecil. Hehehe
Di antara baju-baju tersebut adalah sebuah celana jeans. Ibu suruh aku mencobanya. Aku malas-malasan karena memang posisinya lagi tidur, dan badanku lemas. Ibu ngomel. Katanya aku gak menghargai ibu yang sudah capek-capek membelikan itu. Akhirnya aku bangun dan mencoba si celana. Tapi ketika mau ngancingin celananya, aku gak bisa. Telapak tanganku sakit. Lagi-lagi ibu ngomel: "kayak gitu aja gak bisa!" lalu kutunjukkan telapak tanganku yang memerah. Ibu kaget. Dirabanya keningku. Panas. Segera ibu beristighfar dan minta maaf tadi sudah ngomel-ngomel.
Entah pada hari yang sama, atau keesokan harinya, yang kuingat aku kemudian di bawa ke klinik dokter umum di dekat rumah. Yang merah dan terasa sakit sebenarnya tidak hanya telapak tangan saja, tapi telapak kaki juga. Sepanjang jalan menuju praktek dokternya aku menangis, "kakiku sakit buat jalan..." Tapi aku harus tetap jalan. Walaupun belum segemuk sekarang, tapi aku sudah terlalu besar untuk digentdong ibuku. Dan saat itu kami belum punya motor, apalagi mobil.
Oleh dokter tersebut, aku didiagnosa Herpes. Aku yang masih bau kencur saat itu boro-boro ngerti apa itu herpes. Dan kami semua ya terima aja diagnosa tsb, walaupun aku ingat ibu pernah bilang "kalo herpes bukannya bintil-bintilnya hanya di satu area tertentu aja? lah ini seluruh tubuh kok.."
Iya saat itu selain telapak tangan dan kaki yang memerah, panas, dan sakit, kulitku mulai menunjukkan bintil-bintil berair. Semakin hari jumlahnya semakin banyak dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasanya gatal. Oh ya, pada hari ke sekian, aku sudah tidak mampu mengepalkan telapak tanganku saking sakitnya. Memegang sendok pun hanya di jepit antara ibu jari dan telunjuk saja. Nafsu makanku saat itu baik-baik saja.
Perubahan ekstrim terjadi di tubuhku. Aku merasa seperti monster. Aku bahkan gak berani bercermin. Kerjaku setiap hari hanya tiduran di kasur, gak mau keluar rumah. Malu.
Kalo gak salah ingat, 3x sudah aku dibawa berobat ke dokter umum tadi. Tidak ada perubahan sedikitpun, tapi dokternya tetap memberikan resep yang sama. Akhirnya dengan nada yang agak keras, ibu meminta dibuatkan surat rujukan. Aku dirujuk ke RSUD Bekasi.
Di RSUD Bekasi, aku berjodoh dengan dokter kulit senior. Aku lupa namanya. Orangnya sudah berumur, dan rambutnya sudah banyak yang putih. Saat Pak dokter membaca surat rujukan dari koleganya sambil memperhatikan keadaanku, terutama kulitku, beliau berkata "ini sih bukan herpes..". Dugaan beliau saat itu ada 2: DHD atau apa lah, aku lupa. Dokter tersebut kemudian merujuk aku ke RSCM, terkait fasilitas lab yang belum memadai di RSUD.
Maka aku dibawa ke RSCM. Di sana aku dibawa ke Spesialis Kulit Anak. Aku ingat ruangannya full colors. Banyak gambar-gambar lucunya. Jadi selama tubuhku diamati oleh para dokter spesialis kulit dan dokter-dokter muda lainnya, aku asik melihat gambar-gambar lucu tersebut. Aku ingat mereka saling berdiskusi dan membawa buku yang sangat tebal untuk mencocokkan bintil berair di kulitku dnegan yang ada di buku. Dengan otakku yang masih SMP, aku bisa menyimpulkan bahwa penyakitku langka. Dengan sadar pula aku biarkan tubuhku diperiksa oleh para dokter tesebut, membiarkan diriku menjadi bahan studi kasus mereka.
Aku diminta melakukan biopsi di lab patoanatomi. Saat dibiopsi, sekitar 1cm kulitku diangkat. Itu adalah pertama kalinya aku dijahit. Aku ingat rasanya memang tidak sakit karena bius lokal yang diberikan, namun aku bisa merasakan benang jahit berjalan menembus kulitku.
Beberapa hari setelah itu, aku dan bapak diberi tahu bahwa hasil biopsi lab menunjukkan bahwa aku DHD. Apa pula DHD itu? batinku. Dokternya kemudian menjelaskan bahwa DHD, atau Dermatitis Herpetiformis Duhring, adalah suatu penyakit autoimun. Artinya sistem imunku bertindak reaktif terhadap zat yang seharusnya dianggap kawan. Dokter bilang bahwa aku harus menghindari makanan yang mengandung gluten, seperti gandum dan ketan. Nasi pun diminta untuk mengurangi.
Pulang dari RS, aku tidak ditemani bapak karena beliau ada perlu di sekolahnya. Aku nebeng mobil Om Heri, Tetanggaku yang juga dosen di FK UI. Rumah kami hanya berjarak 3 rumah. Aku ingat ketika mobil Om Heri parkir di halaman rumahnya, ibuku menunggu di depan rumah kami. Tapi ketika aku berjalan ke arahnya, dia malah bertanya pada Om Heri, "Loh, Isna-nya mana?". Duh, padahal aku di jarak yang lebih dekat dibanding Om Heri. Ada sedikit perasaan sedih, mungkin aku sudah terlalu banyak berubah wujud, sampai ibuku sendiri tidak mengenaliku :'(
Memang sudah parah sih kondisiku. Bintil berair itu ada di tangan, kaki, punggung, paha, dada, perut, leher, bahkan wajahku. Aku benar-benar merasa sudah bertransformasi menjadi monster, seperti di beberapa cerita Ghoosebumps. Bentuk bintil berairnya seperti luka bakar. Bintilnya irregular dan ukurannya beragam. Yang di pipi kanan dan kiri ada yang memanjang sekitar 3cm. Bekasnya masih ada hingga sekarang.
Oleh dokter tadi, aku diberi resep berupa bedak salisil dengan mentol 1% dan DDS. Bedaknya mudah diperoleh, tapi DDSnya.. Bapak sampe mendatangi apotek demi apotek untuk mendapatkan obat tersebut. Nihil. Sedih kalo ingat. Itu bulan puasa, siang hari, naik bus, panas... Setelah mencari tapi tidak kunjung mendapatkan obat tersebut, bapak kembali menemui dokter RSCM tadi. Dokter itu kemudian berkata, "Coba bapak menemui Bapak X (aku lupa) di gudang obat". Dan alhamdulillah obatnya ada.
Dilarangnya aku memakan gandum berarti aku gak boleh makan mie, donat, roti, dan lain sebagainya. Aku stres. Sedih lihat orang makan donat hanya bisa melihat saja. Akhirnya Ibu berimprovisasi, dibuatnya kue-kue dengan bahan tepung beras. Bahkan bolu kukus pun dari tepung beras. Tapi tetap, aku ga boleh makan banyak-banyak.
Pengobatan pun berjalan. Diiringi dengan dengan diet yang tadi aku ceritakan tadi. Lucunya setelah "Badai DHD" ini beralu, aku tambah gemuk. Hehehe
Aturan dosis pengobatannya adalah sekian kali perhari (aku -lagi-lagi- lupa). Dosis dikurangi setelah mmm... kalo ga salah dua minggu. Terus dikurangi secara bertahap sampai nol.
Hingga bertahun-tahun setelah itu, si DHD bandel itu alhamdulillah tidak pernah kembali menyapa. Pernah, kalo gak salah, 2x aku merasa telapak tangan panas dan memerah. Tapi sudah sampai di situ saja. Alhamdulillah. Hehe
Oh ya, Alhamdulillah lho berkat si DHD aku pake jilbab ^^
Ceritanya itu bekas bintil tambah gelap kalo kena matahari (kata dokternya). Jadi ya sekalian saja lah kita tutup dengan jilbab. Memang sudah ada keinginannya sejak sebelumnya sih, cuma jadi semacam gong aja utk memulainya. Alhamdulillah masih istiqomah hingga hari ini.
Dalam Rangka Hari Ayah

Lelaki yang di foto ini adalah bapak saya.
Lelaki ini yang selalu siap mem-back-up saya dengan segenap kemampuannya. Lelaki ini pula yg tidak pernah marah atas nilai-nilai jelek saya selama sekolah, bahkan kuliah. Lelaki ini yang pernah menelpon utk menceritakan betapa hampanya hidup tanpa angka demi membuat saya semangat ujian statistika esok harinya, setelah kurang berhasil pada ujian matematika sebelumnya. Lelaki ini yang keliling Jakarta naik bus di bulan puasa saat saya butuh obat bernama DDS, utk menekan si DHD yg bandel. Lelaki ini pula yang pernah mendapat hadiah ulang tahun berupa kabar putrinya dirawat di RS karena demam berdarah. Lelaki ini juga yang pernah ga mau ditinggal jauh putrinya utk bekerja di pulau lain, namun akhirnya membiarkan putrinya itu pergi dibawa orang, orang yg dijabat tangannya pada saat ijab qobul :')
Terimakasih, Bapak.. Semoga Allah selalu sayang sama Bapak dan Ibu.
Bisa!
2 cerita di keluarga kami
#1 bapak nyetir mobil
alkisah dahulu kala bapak tu sudah mahir setir mobil, tapi karena suatu hal, selama sekitar 20 tahun beliau ga nyetir mobil. lalu pada suatu mudik-bersama, kami dan keluarga bude (kakaknya ibu) rame-rame naik sebuah mobil. yang nyetir kakak sepupu. nah, sopirnya ini ngantuk dan pengin tidur. maka pindah lah dia ke seat belakang sambil bilang "udah, Lik Lan aja yang nyetir". kami semua menentang. come on! 20 tahun ga pegang setir! tapi trus sang kakak sepupu ini bilang "udah tenang aja. pasti bisa". well, walaupun adegan selanjutnya adalah kami semua duduk tegak saing tegangnya (kecuali kakak sepupu yang tidur di belakang), sambil komat-kamit berdoa sepanjang jalan, tapi lihat sekarang: bapak mahir menyetir mobil kembali. kita udah merasakan manfaatnya :)
#2 saya nyetir motor
waktu SMA kelas 3, saya pertama kali nyoba mengendarai sepeda motor.belom jaman matic waktu itu, jadi saya belajarnya pake motor bebek. beberapa kali jatoh sih, tapi ya gak parah-parah amat. belum juga saya mahir, suatu hari, saya harus berangkat les LIA. jatah abses udah abis (hehe). biasanya saya diantar bapak. maka sore itu saya guncang-guncang badan bapak yang sedang tertidur, minta diantarkan ke LIA Galaxy. yang dibangunin malah bilang begini "kamu udah bisa kan (naik motor)? tuh kunci di sana. kepala bapak pusing" lalu beliau tidur kembali. What? bawa motor dari Pondok Timur ke Galaxy? yakin??? akhirnya karena waktu semakin mepet dan ga tega sama yang kepalanya lagi pusing, bismillah aja deh, berangkat lah saya ke Galaxy. pelan-pelan banget. sambil komat-kamit berdoa. alhamdulillah perjalanan pulang-pergi lancar. alhamdulillah jadi bisa bawa motor saat di jogja (note: motornya dipaketin, bukan dikendarai loh yah. bisa jantungan ibu saya, hehehe).
Lalu lalu.. soal nyetir mobil... hehehhe
berarti kedua faktor tsb belom ada nih. saya-nya belom nekat :p