Rabu, 25 Maret 2015

Cari Uang itu Susah, Nak!

If one day I have kiddos, I want them to read this. I want them to be better than me in appreciating what they have.
---

Sore tadi Mr S pulang dengan wajah lesu. Hujan deras baru saja berhenti. Di beberapa tempat banjir, kata orang-orang. Tapi bukan hujan dan banjir yang bikin dia lesu, melainkan amplop berisi bayaran les privat yang dia peroleh td siang terjatuh, hilang entah ke mana. Berapa banyak? Ga banyak-banyak banget kok, 90rb. Tapi buat kami itu sangat lumayan. Apalagi Mr S sudah rencana potong rambut, bayar jahitan celana jeans, bayar servis sandal aku, beli bensin. Cukup? Ya, cukup. Tapi kalo duitnya gak ada? *menghela napas*

Aku berada di sisi yang lebih baik. Pekerjaanku lebih enak. Bayaranku lebih baik. Saking enak dan baiknya aku sampe pernah terfikir zona ini terlalu nyaman. Bisa-bisa aku gak siap berada di zona lain. Apalagi roman-romannya zona nyamanku bakalan segera memaksaku pergi. Yah, namanya kehidupan, ada aja masalahnya. Maka aku menantang diri sendiri. Jualan online. Seems good? Yes I tought so.. Until I started it.

Jualan online ini selain utk menantang diri sendiri juga untuk cari tambahan dan pengalaman. Jujur aku jauh banget dari kemampuan berdagang. Gak kaya ibu yg jaman mudanya dulu dagang macem2, atau bapak yg sempet jual kue keliling dan juga sempet jual sepatu (klo gak salah). Aku pernah nyoba bawa dagangan jaman masih kuliah S1 dulu. Bukannya untung malah apes luar biasa; daganganku dimaling orang. Habis itu rasanya trauma.

Tujuan lainnya dari berbisnis online ini adalah untuk menambah nilai manfaat dari HP yg mahal-mahal kubeli (2,9jt untuk levelku rasanya mahal banget loh). Lagipula apa salahnya? Kupikir peluang terbuka lebar. Buktinya makin banyak saja orang yg jualan online. Bukti lain adalah aku juga suka belanja online *ups*

Tapi dari mana memulai? I had no idea. Jadi saat itu ide bisnis online yah mengambang saja di awang-awang. Sambil keder ngeliat teman-teman dan sodara-sodara pada merintis bisnis onlinenya. Mereka tuh gimana sih mulainya? Bukannya tanya malah melanjutkan memandangi mimpi yg mengawang-awang. Hehe

Lalu lahirlah bayi-bayi keponakan. Keponakan beneran yg artinya dari jalur keluarga, ataupun keponakan boongan alias anak dari teman-temanku. Lah, apa hubungannya? Begini, aku sayang mereka dan berbahagia atas baby unyu-unyu mereka donk. Cari kado lah aku. Online shop tentu saja karena kebanyakan baby unyu-unyu itu tidak sekota denganku. Nah, dari survey kado itu lah aku jd kenal sama supplier boneka. Tanya-tanya. Trus biasa deh, gayaku banget, bikin keputusan spontan transfer sejumlah uang utkbukti serius. Dan bisnis ini dimulai begitu saja.

Asyik ternyata. Capek juga. Ngedit foto, nulis caption, share sana sini. Mana laptop rusak pula 4 tombolnya. Jadilah semuanya dilakukan di gadget pintar ini. Terimakasihku bagi para pengembang teknologi smartphone :D

Banyak untungnya? Nggg... To be honest: gak. Aku gak ambil untung banyak. Pertimbanganku adalah sebagai pemain baru aku harus menghadirkan harga yang kompetitif. Lagipula pernah aku baca pelaku bisnis lain yg oernah menulis: lebih baik mengejar omset daripada mengejar margin/laba. Ya sudah, namanya juga masih belajar. Kupikir strategiku sudah tepat. Entah.

Tapi satu hal yang pastinya kurasakan. Cari uang itu susah, nak. Apalagi ini bukan di zona nyaman yang biasa aku tekuni.

Kerja dari pagi pulang sore (karena kejebak hujan juga sih. Hehe) dapat 90 ribu, hilang pula. Lalu jualan, promosi sana sini dapat sekitar 10rb saja. Susah kan cari duit? Apalagi usaha untuk mensyukurinya. Hehe

Aku kepingin saat aku sudah jadi ibu (segera, aamiiiin) aku bisa mengajarkan anakku untuk menghargai sekecil apapun uang atau rezeki bentuk apapun yg mereka dapatkan. Agar ketika dapat yang besar mereka semakin mampu mensyukurinya. Bersyukur kan bikin nikmat kita ditambah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar