Jumat, 01 Mei 2015

Dari Bakso Pak Kemi ke Nasi Kucing

Lagi di Jogja?
Iya, hatinya doank tapi... :-s

====o0o====

Ini gara-garanya ada seorang teman yg lagi balik ke Jogja, entah untuk keperluan apa. Aku gak peduli. Yang aku pedulikan adalah foto yang dipajangnya di akun facebook miliknya; seporsi bakso Pak Kemi.

Kuperkenalkan dulu ya. Bakso Pak Kemi adalah nama sebuah warung bakso di pertigaan Pogung-pandega-monjali. Kalo dari kampus UGM ke barat lalu masuk area pogung, ikuti jalan aja sampe mentok di pertigaan. Nengok kiri dikit, di sana lah si warung ini berada.

Warungnya sederhana (dulu sih, gatau sekarang nah), menunya juga sederhana. Bakso, mie ayam, dan ada es dawet juga. Aku ceritanya mundur ya. Biar yg greget di belakang.

Es dawetnya enak shg gak menutup kemungkinan kamu bakal tergoda utk memesan porsi kedua. Mie ayamnya juga enak. Porsi manusia. Pas lah kenyangnya. Nah, baksonya -yg fenomenal itu- sebenernya rasanya biasa aja seenak warung bakso yg lain. Ada mie kuning dan putih, bakso, bakso goreng, sawi, potongan2 daging/tetelan. Cuma porsinyaaa... benar-benar fenomenal. Ga santai lah porsinya. Agak sulit dibilang porsi manusia!

Pertama kali makan di sana tu diajak sama senior-senior KSH. Berhubung itu warung judulnya aja warung bakso, maka aku pesen bakso dengan lugunya. Maka ketika itu mangkok bakso mendarat di meja makan, shock lah aku! Iya, shock karena liat porsinya.

Lalu pas makan, masih dgn lugunya, aku mempertahankan kebiasaan makan baksoku; makan mienya dulu lalu save the bakso for the last. Bodoh. Makan mienya dulu tu bikin keburu kenyang duluan. Alhasil pas pertama makan di sana aku malah jd ga menikmati baksonya T_T

Pengalaman tsb membuatku bertekad utk selalu memulai dgn memakan baksonya. Mienya belakangan. Dan lebih baik gak makan di sana kecuali benar-benar sedang lapar. Hehe

Harganya dulu sih kalo ga salah inget 7rb utk seporsi bakso itu. Pas kutanya temenku yg baru aja makan di sana, berapa sekarang harganya, temenku itu bilang "bakso seporsi sama es dawet 2 gelas kata ibuknya yg jualan 15rb, mba". Jogja oh jogja. Murah bener.

Lantas jadilah untuk beberapa menit berikutnya mataku gak lepas dari foto si bakso yg diupload temenku itu. Sesekali menghela napas berat. Akhirnya cerita sama Mr S. Dan bertekad bahwa klo suatu saat ke Jogja kami akan ke sana!

Namun pada akhirnya aku tersadar bahwa memandangi foto bakso pak kemi tidak membuatku berada di sana. Ini bukan film LUP jaman aku kecil dulu yg pemerannya punya kaca pembesar ajaib yg kalo melihat foto suatu tempat dgn kaca pembesar tersebut kita akan terteleportasi ke sana. Ini dunia nyata.

Akhirnya tercetus ide dari lelakiku; "kita ke nasi kucing aja yuk!". Kupikir why not, kan lumayan ada bau-bau jogjanya dikit juga. Hahaha

Capcus lah kami ke warung nasi kucing yg sebelumnya udah pernah kami datangi. Lokasinya di jln Jatiwaringin, deket bakery Majestyk. Pesan 3 porsi nasi, 3 tusuk sate usus, 1 tusuk sate kukit, 1 tusuk sate ati ampela, 2 gorengan, segelas teh tawar, dan segelas jahe hangat. Lalu duduk sila dan menikmati jamuan tersebut.

Enak. Nasinya lauk teri -2 ekor teri per bungkus- dibungkus kertas nasi dgn bentuk konus. Satenya dan gorengannya semua dihangatkan setelah kami comot dari gerobak penjualnya. Yang mantap adalah sambalnya. Nyocol dikit aja bikin monyong-monyong. Hehe

Selesai makan tiba saatnya untuk menyelesaikan transaksi. Kusebutkan semua yg udah kami makan pada salah satu mas penjualnya. Selesai itu dia komat-kamit menghitung, lalu bilang "32 ribu mba".

32 ribu mah harga wajar ya untuk jabodetabek. Ga bisa dibandingin sama harga nasi kucing di jogja, apalagi kalo aku bandinginnya sama harga yg berlaku saat aku jadi mahasiswa di sana. Gak relevan. Gak move on. Hehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar