Jumat, 01 Mei 2015

Tragedi Ketek

Percuma deh sekolah 5 tahun di fakultas biologi. Apalagi pake nambah 3 tahun di biomedik. Kalo ga bisa membedakan morfologi ketek dan tengkuk (bagian belakang leher) manusia.

Percuma. Banget.

===o0o===

Tragedi ini terjadi beberapa malam yang lalu. Saat lagi menikmati us time (karena me time terlalu mainstream, hahah) berdua sama suami, ngobrol ngalur ngidul sambil rebahan di kamar.

Adalah kebiasaanku ketika ngobrol sambil ngusap-ngusap punggung, atau kepala, atau tangan suami. Tapi entah kenapa malam itu tanganku nyasarnya ke "tengkuk". Wajahku menghadap langit-langit kamar.

"Tengkuk" karena kupikir itu tengkuk.

Kuusap-usap sambil mulut terus bercerita dan wajah di posisi yg sama. Mr S diam, kupikir dia sedang menyimak ceritaku. Menyimak dengan sangat seksama.

Saat kuusap, teraba lah rambut rambut di "kepala" lekakiku itu. "Kepala" karena -sekali lagi- kupikir itu kepalanya.

Lalu aku merasa aneh. Kok rambutnya si abang gondrong. Perasaan belum lama cukur.

Lalu aku curiga. Ini bukan tengkuk dan itu bukan rambut kepala.

Aku menoleh.

Lalu.. entah harus bagaimana. Aku gak bisa berkata-kata. Gak sanggup. Akhirnya cuma ngakak. Bener-bener ngakak ketawa sampe perut sakit dan mata berair. Dan terguling dari atas kasur ke lantai kamar. Si abang pun ikutan ngakak, tapi kalo dia mah rasanya ngakak karena merasa menang deh.

Iya, itu bukan tengkuk. Itu ketek.

My God!! Jadi selama beberapa menit itu aku ngelus-ngelus ketek?? Ketek yg selama ini aku ledekin "bau etek bau etek" kalo aku lagi iseng?!

Pantas itu rambut kok panjang, sedangkan model favorit dia kan potongan rambut grepes ala abri. Pantas si abang diam. Pantas...

Dalam kemenangannya, si abang berkata "akhirnya istriku mengakui ketekku harum"

Ih, apaan sih. Itu kan khilaf x_x

Sungguh tragedi yg rasanya tak terlupakan.

Dan dia pun dengan senang hati mengungkitnya. Hadeuh -_-'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar