Kamis, 10 Desember 2015

Panggilan untuk diri sendiri

Saya memperhatikan keponakan semata wayangnya Mr S.. kok banyak amat ni anak ya panggilannya. Nama aslinya Divanda. Mamanya manggil dia Mbak Diva, endeh (nenek)nya juga Mbak Diva. Papanya manggil dia Cimut. Omnya, yaitu Mr S, manggil dia Poni. Sementara dia sendiri memanggil dirinya dengan Mbak.

Trus jadi ngeliat ke diri sendiri. Aku juga dink punya banyak panggilan. Efek dari memiliki nama depan yang bukan nama panggilan.

Nama depanku Diyan. Panggilanku yg umum, sampai sebelum aku mulai kerja, adalah Isna. Di rumah aku dipanggil Ina sama keluarga. Beberapa teman dekat juga manggilnya Ina. Adekku manggil aku Mbak Ina. Beberapa adik angkatan yang lumayan dekat manggilnya Mbak Na. Aku sendiri biasa menyebut diriku Ina di hadapan keluargaku. Kalo sama temen-temen yaa nyebutnya Gue atau Aku. Hehe

2010 adalah awal dari semuanya mulai semakin variasi. Tahun tsb adalah tahunnya aku mulai bekerja. Dannnn di tempat kerja ini,entah mengapa, sulit sekali mempengaruhi teman-teman bahwa nama panggilanku adalah Isna. Jadilah aku dipanggil dengan nama depanku, Diyan.

Yap, temen-temen panggil aku Diyan. Murid-murid dan wali murid biasa manggil Miss Diyan atau Ibu Diyan. Temen-temen di KI 70 malah ada yang manggil Budi, singkatan dari Bu Diyan ~sigh~ semena-mena deh kalian.

Yah apa pun lah.

Apalah artinya nama, setangkai mawar, dengan nama apapun, tetaplah harum.

Diriku, dengan nama apapun, tetaplah .... kece B-)

Oh Jengkol, Oh Petai, OH MY GOD x_x

Dalam sebuah sesi presentasi sebagai salah satu tugas akhir di level paling akhir kursus Bahasa Inggris, seorang gadis wanita berjilbab membuka peresentasi persuasifnya dengan menunjukkan suatu gambar sambil bertanya,"Do you know what it is?". Gambar tsb sangat familiar, tentu saja semua orang tau. Itu gambar petai, yah biar gampang kita sebut saja 'pete'. Maka seisi kelas menjawab. Sebagian sambil terkekeh, sebagian mengedip-ngedipkan mata. Yang jelas tujuan gadis tsb untuk memancing first impression yg baik sangat berhasil. Seisi kelas tertarik untuk menyimak presentasi persuasifnya mengenai pete. Gadis tersebut memaparkan manfaat pete bagi kesehatan. Di akhir presentasi bahkan ia melontarkan sebuah quotation yg diubah, yaitu: a petai a day keeps the doctor away!

Gadis tersebut adalah saya. Do i like pete? No! Not at all. I was just trying to show something different on my presentation. Yang lain kan persuasif mengunjungi suatu tempat wisata, atau persuasif untuk melakukan hal-hal yg positif. Nah, aku tuh pengen tampil beda. Emang kebiasaan deh suka gitu ~padahal butuh perjuangan habis2an untuk memunculkan nyali tampil beda begitu. Hahaha

Dan malam ini, sesi presentasi itu terputar ulang di otak. Apa sebab? Lakik eyke baru makan jengki tadi pagi bok!

Yes he likes jengki. Also, he likes pete!

X_________X

Dapatkah anda membayangkan bagaimana rasanya bermalam di kamar yang punya kamar mandi dalam, dan sangat amat kebetulan sekali posisi kamar mandi tsb berjarak sangat dekat dengan tempat tidur?! Dapatkah anda memberikan empati anda-anda semua kepada orang-orang yg tersiksa karena pasangannya sangat menukai jengki dan pete? Huhuhuhu...

Oh my God.... Trus ini gimana mau tidur? Semerbak euy! T____________T

Sampe-sampe otak ni menentukan pepatah yg tepat untuk malam ini, yaituu......

KARENA JENGKOL SEPORSI RUSAK MOOD ISTRI ANDA SEHARIAN

Duh, pingsan sekalian malah enak kali y? Sadarnya besok pas adzan subuh. Heuh..

Selasa, 08 Desember 2015

Menanti hadirmu, sang buah cinta..

Tadi siang seorang teman lama menyapa saya. Tanpa basa basi dja bertanya apakah saya pernah pergi ke dokter kandungan, karena setelah lima bulan menikah dia kok belum hamil juga. Dia jg bertanya apakah saya sudah 'isi' atau belum. Pada saat itu saya yang sedang mengedit soal remedial untuk murid-murid tercinta, hanya tertawa kecil.

Ya jelas saya pernah ke obsgyn. Saya punya miom nebeng hidup di rahim saya. Entah sudah seberapa ukurannya skrg. Banyak kendala untuk rutin kontrol ke dokter (weks alesan!). Dan ya jelas, sekarang saya belum 'isi'.

Yang saya lakukan berikutnya adalah menyemangati. Memberi saran untuk tidak stres. Berkata bahwa anak itu adalah rejeki yang kepemilikannya sudah ada yang mengatur. Mengingatkan bahwa Allah selalu yang paling tahu yang terbaik untuk kita. Mencoba mengungkapkan bahwa bukan punya-anak-atau-tidak yang menentukan kemuliaan kita; toh Aisyah RA tidak memiliki anak, pun begitu tidak berkurang kemuliaan beliau, kan?

Saya sempat tertegun. Bisa-bisanya saya tu ngomong begitu. Kaya ga pernah stres aja sepanjang perjalanan menantikan hadirnya sang buah cinta.

Walaupun... sebenarnya saya sedang berproses untuk mengikhlaskan kondisi bilamana seandainya -naudzubillah- Allah mentakdirkan saya untuk tidak memiliki anak... Hm... Tentu saya tidak akan bisa sehebat Aisyah RA. Jauhhhhhh...

Tapi itu tidak mudah. Pada saat menuliskan paragraf di atas pun dada saya terasa berat. Mata saya panas. Saya belum bisa seikhlas yang saya inginkan..

Tapi saya lelah diombang-ambing perasaan cemas. Diombang-ambing sugesti menyebalkan yang membuat saya sering mual layaknya orang yang tengah hamil muda. Lelah sekali. Saya pengen menikmati hidup dengan lebih santai.

Yang sering sekali terjadi adalah begini: minggu pertama siklus (pas haid) saya berada antara perasaan sedih karena si haid datang, sekaligus senang atas alasan yang sama: si haid datang. Sedih karena berarti bulan tsb saya blm dapat predikat 'ibu hamil', sekaligus senang karena H2C saya berakhir.

Minggu kedua bisa dibilang minggu paling nikmat di antara minggu-minggu yang lain. Emosi saya cenderung stabil. Kesehatan terasa prima.

Minggu ketiga adalah saat dimulainya perasaan-perasaan cemas itu datang. Ovulasi terjadi pada kisaran ini. Emosi saya labil. Pikiran jadi penuh dengan pengharapan sekaligus penolakan untuk berharap karena sudah berkali-kali gagal. Setiap berhubungan hampir selalu diiringi 'mantra' yang siucapkan berulang-ulang di dalam kepala: mudah-mudahan jadi, mudah-mudahan jadi, mudah-mudahan jadi... Bukan hal yang salah sih, tapi saya pikir hal tsb malah bikin saya stres.

Minggu keempat H2C setinggi bukit. Badan rasanya gak enak karena adanya perubahan-perubahan hormonal dalam tubuh. Beberapa saya simpulkan sebagai sugesti semata. Entahlah. Wallahualam. Yang jelas pada minggu ini asam lambung sering menjadi masalah, perut terasa mual, payudara terasa keras dan sensitif, penciuman menjadi lebih sensitif, pikiran juga sensi, dan tenggorokan terasa seperti mau meradang. Seperti gejala orang hamil kan? Padahal itu bs juga adalah gejala PMS. Ya kan? Tapi otak ini selalu berpikir "gara-gara 'isi' kali nih?!". Trus jd semangat. Trus jd down lagi karena toh ini bukan pertama kalinya seperti itu.

Minggu kelima -lumayan sering muncul- artinya haid telat datang. H2C menggila. Meninggi jadi setinggi gunung. Jangan tanya kaya apa rasanya badan ini. Mirip-mirip sama gejala di minggu sebelumnya, hanya saja dengan persentase masalah asam lambung yang memicu mual yang sedikit lebih tinggi. Pada minggu ini setiap detik saya berharap bahwa haid tidak datang karena ada buah cinta tumbuh dalam rahim saya. Tapi semakin berjalannya hari, dengan testpack yang tidak kunjung menunjukkan hasil positif, sebagian hati saya berharap agar haid segera datang dan menghentikan perasaan tak menentu ini.

Dan siklus itu berulang lagi. Dan lagi. Dan lagi... Entah harus sampai kapan...

~~oh ya, sedikit menjelaskan soal 'hobi' testpack. Semenjak keguguran yang waktu itu, saya jadi cenderung aware sekaligus khawatir akan kehilangan lagi gara-gara saya telat diberi obat penguat. Walaupun sebenarnya masalah yang waktu itu bukan karena itu sih; memang posisi menempelnya janin yang gak bagus. Tapi pokoknya I dont wanna lose more baby. Saya ga mau telat dapat obat penguat kandungan begitu saya tau saya hamil.

Kembali ke soal siklus tadi.
Lihat kan bagaimana saya mendeskripsikan perasaan terombang-ambing saya sepanjang siklus? Dan ingat hal tsb berulang lho. Belum lagi dibumbui faktor lain semisal iri si Anu anaknya cakep dan lucu, si Ani anaknya udan tiga, atau si Ana anaknya sudah masuk TK. Beugh, tambah lah itu galau. Sehebat apapun saya mengatasi hal tsb, sehebat apapun saya berusaha ikut berbahagia atas kebahagiaan kawan-kawan saya.... Perasaan-perasaan cemas itu masih saja mengalir dalam darah saya. Masuk ke otak. Merusak pikiran dan tubuh saya..

Makanya saya merasa harus bisa ikhlas. Menjadi cemas dan galau dan iri dan lain-lainnya itu tidak membawa kebaikan apapun pada diri saya. Ya kan? Malah bikin bete. Bikin melow. Berpotensi bikin ga mau hidup juga -naudzubillah-

Terakhir, saya berharap lingkungan saya mendukung dan mengerti. Malah sebagian dari diri saya menginginkan orang-orang di lingkaran saya tidak banyak berharap pada saya. Karena saya benci bila tidak bisa mengabulkan harapan tsb.

Saya mau menikmati hidup sebagai wanita yang utuh. Saya ingin menjadi wanita yang tidak rapuh atas suatu keinginan yang tidak dapat terwujud. Dan di atas itu semua..... Saya ingin menjadi wanita yang selalu pandai bersyukur atas setiap takdirNya...

Pondok Gede,
09122015 00:05
Pada minggu ketiga siklus
Dari seorang yang masih menanti dan belajar menanti dalam keikhlasan..

Suami saya

Suami saya, yang kalian kenal sbg Pak Sigit atau Mr S, adalah orang yang menggemaskan. Dia pendiam. Tidak romantis. Cenderung cuek. Tapi penyabar.

Well, sbnrnya saya mau nulis dia itu orang yang adil. Tapi dua kata: suami dan adil, is always connected to... ummm... poligami.

-_________-

Idih, ini apaan sih? Hahaha

Well, here is the thing. We've been growing up in very different family values and cultures. Kadang saya nyerah kalo dituntut untuk ngikutin kedua belah pihak. --Yah sejujurny klo ke pihak keluarga sendiri sih way more easier yah--

Kadang saya berpikir: ya udah lah, kita ga usah sepaket iring-iringan. Ada kamu berarti ada aku. Fleksibel aja. Kalo pas lagi ada perlu yang bersamaan ya kita bagi tugas gitu. Ga mesti saya di keluarga saya, dia di keluarganya. Seperlunya aja. Tapi beliau yang satu ini akan berkata "jangan begitu"

Kadang pengen "rrrrrrhhhh" tapi terikat pada kondisi bahwa istri harus nurut suami ~~hahaha jadi kaya terpaksa begitu :p

Suami saya juga orang yg terbiasa memendam perasaannya. Yang dia pendam biasanya adalah perasaan marah (sama istrinya). Nah, masalahnya, kadang saya ni bebal. Gak sensitif. Gak ngeh kalo dia lagi marah.

Pada saat menyadari hal tsb saya sbrnya dilema loh. Sebenernya kan enak punya suami model begitu, dibandingkan punya suami yg emosi marahnya meluap-luap. Ya kan? Tapi ga enaknya adalah saya jd harus menerka-nerka. Padahal balik lagi, saya tu bebal dan ga sensitif.

Entah sudah seberapa banyak saya nyakitin perasaan dia dengan kebebalan dan ketidaksensitifan saya... T_T

Dan malam ini, saya mengingatkan diri sendiri bahwa sosok lelaki yang selalu berusaha adil dan sabar ini perlu banget banget banget diperhatikan. Saya ga boleh cuek. Bahkan mungkin perlu pasang alarm di HP setiap siang untuk nanyain "kamu udah makan?". Juga alarm pengingat di malam hari untuk mengecek apakah malam itu suami saya sudah makan malam, ada kepingin sesuatu, atau ada kepingin 'senam', gitu?

Yah, semoga beliau yang karakternya selalu memendam perasaan ini bisa memaafkan saya yah.. Semoga langgeng terus. Aamiiiin..

No title

tiba-tiba pengen nulis ini:

Life is always full of stories. The stories of our own and the stories of others... It's kinda amazing (and is always expected to) when every single story we ever had ended up with a beautiful ending. Feels like God loves us so much. But if it is otherwise instead, dont ever think that He does not. He wants us to learn...
And I'm trying to be a good learner.... who sadly have been wasting time for unuseful things. Damn.

Senin, 30 November 2015

SOAL YANG TERTUKAR

Cerita ringan hari ini.
~~Well, yang ringan menurut kita belum tentu ringan menurut orang lain sih..

Tadi, di tengah aktifitas menandatangani kartu legitimasi Ujian Akhir Semester (UAS) anak-anak di ruangan yang saya awas, tiba-tiba HP bergetar. Insting kuat untuk mengecek HP mengingat jaman gini gitu loh, komunikasi hal-hal penting terkait ujian pasti dilakukan melalui aplikasi whatsapp.

Tuh, benar kan, sebuah pesan dari Frau Ika masuk.
“Ruang 8 kelas XI 4. Anak-anak mendapatkan soal bahasa Indonesia kelas XII. Kalau boleh tau, di mana saya bisa mendapatkan soal bahasa Indonesia kelas XII?”

Saya dengan polosnya hanya membatin: wah, kasian Frau Ika jadi repot. Lalu melemparkan pandangan ke anak-anak di depan saya. Anteng kok mereka. Aman lah.

Tapi masuk pula pesan dari Mr Dadan selang beberapa menit kemudian.
“Ruang 9 dapat soal kelas 11. Mohon ada yang tukar, ruang 9 kelas 12”

Wah, ada yang gak beres nih.
Saya pecahkan kesunyian kelas dengan pertanyaan, “Nak, kalian kelas berapa?”
“XI.2, miss”
Saya seret pandangan saya ke sampul soal.

UAS Bahasa Indonesia Kelas XII

Saya mulai panik. Kelas mulai kasak-kusuk.

Tiba-tiba Mr Dadan sudah di depan pintu. Berlatar belakang lapangan upacara dan taman yang terang ditimpa cahaya matahari, Mr Dadan terlihat sangat beraura. Dia bilang, “Bu, soalnya tertukar”
~~Well, emang aneh-aneh aja orang kalo lagi panik. Liat temen kerja berasa liat artis. Hahaha  

Kelas langsung riuh. Ada yang tertawa, ada yang ngedumel, ada yang cuma garuk-garuk kepala pake pensil. Hahaha

Langsung gerak cepat deh, semua naskah soal ditarik kembali. Anak-anak langsung heboh hapus-hapus jawaban di naskah soal yang kadung mereka terima juga di lembar jawaban computer mereka.

Serah terima soal pun dilaksanakan dengan mengikuti amanat dari bapak proklamator; dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Waktu ujian otomatis di-reset.

Hhahhhhh… ada-ada saja. Ya maklum, manusia pasti ada erornya.


Selamat UAS anak-anakku ;)

Rabu, 25 November 2015

Menyimpan Makanan di Kulkas

Semalam, sekitar pukul 1, aku terbangun. Teringat makanan di meja yang belum dimasukkan ke dalam kulkas. Saat aku beranjak ke dapur, kudapati Mr S, suamiku tercinta, masih bangun dan masih asik menonton TV. Kusapa lelakiku itu.
"Belum tidur mas?"
"Bagus nih filmnya. Kamu kenapa kebangun?"
"Inget makanan belum disimpan di kulkas"
"Oh, udah kumasukin kulkas kok tadi"
Wah, senangnya. Pengertian sekali suamiku.

Maka aku ke dapur untuk memastikan meja makan telah kosong karena isinya sudah tersimpan aman di dalam kulkas. Dan memang benar kok, meja makan sudah bersih. Tudung saji sudah menangkring manis di cantelannya di tembok. OK sip. Mari tidur lagi.

Pagi pun menjelang. Setelah solat subuh aku ke dapur untuk mencuci piring-piring bekas makan semalam. Suamiku-yang-sangat-pengertian itu pun kulihat sedang menggenggam gagang pel teras. Pengertian sekali memang. Untukku yg berjilbab, kadang malas harus cari jilbab dulu utk ngepel depan. Alhamdulillah. Terimakasih Allah atas suami yang pengertian..

Cucian piring beres. Teh untuk suami sudah terhidang. Aku pun pergi menemui suamiku tercintah utk bertanya "mau sarapan apa mas?"

"Nasi goreng"

Ok. Persiapan nasi goreng pun di mulai. Bumbu siap. Nasi sudah dikeluarkan dari dalam magic jar. Telur sudah diambil dari dalam kulkas. Apa lagi ya? Oh ya, aku punya bakso di freezer kulkas. Enak kayanya pake bakso.

Maka aku pun melangkah lagi ke kulkas. Kulkas milik mama ini adalah kulkas 2 pintu. Sehingga untuk mengakses freezer aku harus membuka pintu yg sebelah atas.

Kubuka pintu freezer itu.
Mau pingsan rasanya.

Ada mangkok poselen mama di sana. Isinya sayur semalam. Juga pinggan-pinggan lauk.

Jadi yang dimaksud suamiku dengan sudah-dimasukkan-ke-kulkas itu adalah... SUDAH DIMASUKKAN KE FREEZER!

Ya gapapa sih. Bukan kesalahan yg fatal-fatal amat. Tapi jadi repot ngangetinnya karena perlu di-unfreeze dulu kan? Dan itu bukan hal yang biasa kan?

Pantesan waktu ngambil telur di kulkas, ni mata gak ngeh klo ada mangkok sayur dan pinggan lauk di dalam kompartemen lemari pendingin tsb. Karena emang beneran ga ada. Duh!

Passss saat aku masih syok-syok-nya, Mr S suamiku tercintah menongolkan batang hidungnya di dapur. Langsung nyengir. Gemes deh.

Dan akhirnya, memang butuh waktu beberapa lama untuk membuat makanan itu siap dihangatkan. Orek tempe yang parah. Pas diangetin jd hancur bentuknya. Potongan tempenya jd semakin kecil.. dan... absurd. Ya sudah lah. Tempe is tempe. Tetep enak kok.

Lesson learned: cek dengan seksama KE DALAM KULKAS saat suami bilang "sudah dimasukkan ke kulkas kok"

Selasa, 17 November 2015

Maskeran yuk!

Ceritanya kemarin lalu ada teman di grup whatsapp yang tanya "gimana sih biar muka gak kusam?" Lalu dijawab lah oleh teman-teman grup --> maskeran aja!

Jadi ngebatin sendiri; iya yah, kapan ya terakhir kali maskeran? Hehehe

Maka dari ituu semalam pas nemenin Mr S beli obat buat Papa yg lagi pilek, trus di toko obat ada masker, yg akhirnya kubeli itu, sedang bergelantungan. Serasa seperti sedang dipanggil-panggil. "Belilah aku.. belilah aku.. belilaaah..."

Akhirnya dikubeli lah itu masker. Merk Oval. Instan, enak gak usah dicairin lagi. Langsung oles di muka.

So, begitu sampe rumah, langsung bersihin muka (pake sabun muka, soalnya segala lotion pembersih udah abis. Hehehe). Trus buka bungkusan maskernya. Gampang tinggal sobek pake tangan. Terus colek-colek deh pake jari, langsung olesin ke muka.

Pas masih basah, rasanya ademmmm... Seger banget di muka. Hehe

Trus setelah beberapa menit (gak liatin jam, asik nonton tipi), kering lah itu masker. Langsung bersihin pake waslap dibasahin.

Trus pas liat kaca.. Wweeeeessss mukaku kinclong! Hahahaha

Beneran, muka keliatan lebih cerah, dingin-dingin kenyal gitu. Enak deh pokoknya.

Entah ya itu karena maskernya baruu aja dilunturin apa bakal bertahan begitu. Taoi kayanya tetep deh, perlu konsisten nih, seminggu sekali enak kayanya.

^^

Kamis, 12 November 2015

Tentang DHD-ku

Kejadiannya... mmm... sekitar 15 tahun lalu. Waktu itu aku kelas 2 SMP. Aku ingat sekali waktu itu adalah bulan Ramadhan, dan sedang libur. Kayanya itu pas Ramadhan diliburkan sebulan full deh.

Aku ga terlalu ingat persis awal mulanya bagaimana. Yang kuingat suatu sore Ibundo pulang kantor membawa beberapa potong pakaian. Biasa lah, euforia baju baru untuk lebaran, kan waktu itu aku masih kecil. Hehehe

Di antara baju-baju tersebut adalah sebuah celana jeans. Ibu suruh aku mencobanya. Aku malas-malasan karena memang posisinya lagi tidur, dan badanku lemas. Ibu ngomel. Katanya aku gak menghargai ibu yang sudah capek-capek membelikan itu. Akhirnya aku bangun dan mencoba si celana. Tapi ketika mau ngancingin celananya, aku gak bisa. Telapak tanganku sakit. Lagi-lagi ibu ngomel: "kayak gitu aja gak bisa!" lalu kutunjukkan telapak tanganku yang memerah. Ibu kaget. Dirabanya keningku. Panas. Segera ibu beristighfar dan minta maaf tadi sudah ngomel-ngomel.

Entah pada hari yang sama, atau keesokan harinya, yang kuingat aku kemudian di bawa ke klinik dokter umum di dekat rumah. Yang merah dan terasa sakit sebenarnya tidak hanya telapak tangan saja, tapi telapak kaki juga. Sepanjang jalan menuju praktek dokternya aku menangis, "kakiku sakit buat jalan..." Tapi aku harus tetap jalan. Walaupun belum segemuk sekarang, tapi aku sudah terlalu besar untuk digentdong ibuku. Dan saat itu kami belum punya motor, apalagi mobil.

Oleh dokter tersebut, aku didiagnosa Herpes. Aku yang masih bau kencur saat itu boro-boro ngerti apa itu herpes. Dan kami semua ya terima aja diagnosa tsb, walaupun aku ingat ibu pernah bilang "kalo herpes bukannya bintil-bintilnya hanya di satu area tertentu aja? lah ini seluruh tubuh kok.."

Iya saat itu selain telapak tangan dan kaki yang memerah, panas, dan sakit, kulitku mulai menunjukkan bintil-bintil berair. Semakin hari jumlahnya semakin banyak dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasanya gatal. Oh ya, pada hari ke sekian, aku sudah tidak mampu mengepalkan telapak tanganku saking sakitnya. Memegang sendok pun hanya di jepit antara ibu jari dan telunjuk saja. Nafsu makanku saat itu baik-baik saja.

Perubahan ekstrim terjadi di tubuhku. Aku merasa seperti monster. Aku bahkan gak berani bercermin. Kerjaku setiap hari hanya tiduran di kasur, gak mau keluar rumah. Malu.

Kalo gak salah ingat, 3x sudah aku dibawa berobat ke dokter umum tadi. Tidak ada perubahan sedikitpun, tapi dokternya tetap memberikan resep yang sama. Akhirnya dengan nada yang agak keras, ibu meminta dibuatkan surat rujukan. Aku dirujuk ke RSUD Bekasi.

Di RSUD Bekasi, aku berjodoh dengan dokter kulit senior. Aku lupa namanya. Orangnya sudah berumur, dan rambutnya sudah banyak yang putih. Saat Pak dokter membaca surat rujukan dari koleganya sambil memperhatikan keadaanku, terutama kulitku, beliau berkata "ini sih bukan herpes..". Dugaan beliau saat itu ada 2: DHD atau apa lah, aku lupa. Dokter tersebut kemudian merujuk aku ke RSCM, terkait fasilitas lab yang belum memadai di RSUD.

Maka aku dibawa ke RSCM. Di sana aku dibawa ke Spesialis Kulit Anak. Aku ingat ruangannya full colors. Banyak gambar-gambar lucunya. Jadi selama tubuhku diamati oleh para dokter spesialis kulit dan dokter-dokter muda lainnya, aku asik melihat gambar-gambar lucu tersebut. Aku ingat mereka saling berdiskusi dan membawa buku yang sangat tebal untuk mencocokkan bintil berair di kulitku dnegan yang ada di buku. Dengan otakku yang masih SMP, aku bisa menyimpulkan bahwa penyakitku langka. Dengan sadar pula aku biarkan tubuhku diperiksa oleh para dokter tesebut, membiarkan diriku menjadi bahan studi kasus mereka.

Aku diminta melakukan biopsi di lab patoanatomi. Saat dibiopsi, sekitar 1cm kulitku diangkat. Itu adalah pertama kalinya aku dijahit. Aku ingat rasanya memang tidak sakit karena bius lokal yang diberikan, namun aku bisa merasakan benang jahit berjalan menembus kulitku.

Beberapa hari setelah itu, aku dan bapak diberi tahu bahwa hasil biopsi lab menunjukkan bahwa aku DHD. Apa pula DHD itu? batinku. Dokternya kemudian menjelaskan bahwa DHD, atau Dermatitis Herpetiformis Duhring, adalah suatu penyakit autoimun. Artinya sistem imunku bertindak reaktif terhadap zat yang seharusnya dianggap kawan. Dokter bilang bahwa aku harus menghindari makanan yang mengandung gluten, seperti gandum dan ketan. Nasi pun diminta untuk mengurangi.

Pulang dari RS, aku tidak ditemani bapak karena beliau ada perlu di sekolahnya. Aku nebeng mobil Om Heri, Tetanggaku yang juga dosen di FK UI. Rumah kami hanya berjarak 3 rumah. Aku ingat ketika mobil Om Heri parkir di halaman rumahnya, ibuku menunggu di depan rumah kami. Tapi ketika aku berjalan ke arahnya, dia malah bertanya pada Om Heri, "Loh, Isna-nya mana?". Duh, padahal aku di jarak yang lebih dekat dibanding Om Heri. Ada sedikit perasaan sedih, mungkin aku sudah terlalu banyak berubah wujud, sampai ibuku sendiri tidak mengenaliku :'(

Memang sudah parah sih kondisiku. Bintil berair itu ada di tangan, kaki, punggung, paha, dada, perut, leher, bahkan wajahku. Aku benar-benar merasa sudah bertransformasi menjadi monster, seperti di beberapa cerita Ghoosebumps. Bentuk bintil berairnya seperti luka bakar. Bintilnya irregular dan ukurannya beragam. Yang di pipi kanan dan kiri ada yang memanjang sekitar 3cm. Bekasnya masih ada hingga sekarang.

Oleh dokter tadi, aku diberi resep berupa bedak salisil dengan mentol 1% dan DDS. Bedaknya mudah diperoleh, tapi DDSnya.. Bapak sampe mendatangi apotek demi apotek untuk mendapatkan obat tersebut. Nihil. Sedih kalo ingat. Itu bulan puasa, siang hari, naik bus, panas... Setelah mencari tapi tidak kunjung mendapatkan obat tersebut, bapak kembali menemui dokter RSCM tadi. Dokter itu kemudian berkata, "Coba bapak menemui Bapak X (aku lupa) di gudang obat". Dan alhamdulillah obatnya ada.

Dilarangnya aku memakan gandum berarti aku gak boleh makan mie, donat, roti, dan lain sebagainya. Aku stres. Sedih lihat orang makan donat hanya bisa melihat saja. Akhirnya Ibu berimprovisasi, dibuatnya kue-kue dengan bahan tepung beras. Bahkan bolu kukus pun dari tepung beras. Tapi tetap, aku ga boleh makan banyak-banyak.

Pengobatan pun berjalan. Diiringi dengan dengan diet yang tadi aku ceritakan tadi. Lucunya setelah "Badai DHD" ini beralu, aku tambah gemuk. Hehehe

Aturan dosis pengobatannya adalah sekian kali perhari (aku -lagi-lagi- lupa). Dosis dikurangi setelah mmm... kalo ga salah dua minggu. Terus dikurangi secara bertahap sampai nol.

Hingga bertahun-tahun setelah itu, si DHD bandel itu alhamdulillah tidak pernah kembali menyapa. Pernah, kalo gak salah, 2x aku merasa telapak tangan panas dan memerah. Tapi sudah sampai di situ saja. Alhamdulillah. Hehe

Oh ya, Alhamdulillah lho berkat si DHD aku pake jilbab ^^
Ceritanya itu bekas bintil tambah gelap kalo kena matahari (kata dokternya). Jadi ya sekalian saja lah kita tutup dengan jilbab. Memang sudah ada keinginannya sejak sebelumnya sih, cuma jadi semacam gong aja utk memulainya. Alhamdulillah masih istiqomah hingga hari ini.


Dalam Rangka Hari Ayah

Kemarin adalah hari ayah. Ini sih gara-gara di facebook banyak bergentayangan ucapan Happy Father's Day atau semacamnya, saya jadi terkenang sama sosok Bapak. Well, ga maksud mengesampingkan peranan Ibu saya ya.. Because this is father's day, so, this post will be about him :)


Lelaki yang di foto ini adalah bapak saya. 
Lelaki ini  yang selalu siap mem-back-up saya dengan segenap kemampuannya. Lelaki ini pula yg tidak pernah marah atas nilai-nilai jelek saya selama sekolah, bahkan kuliah. Lelaki ini yang pernah menelpon utk menceritakan betapa hampanya hidup tanpa angka demi membuat saya semangat ujian statistika esok harinya, setelah kurang berhasil pada ujian matematika sebelumnya. Lelaki ini yang keliling Jakarta naik bus di bulan puasa saat saya butuh obat bernama DDS, utk menekan si DHD yg bandel. Lelaki ini pula yang pernah mendapat hadiah ulang tahun berupa kabar putrinya dirawat di RS karena demam berdarah. Lelaki ini juga yang pernah ga mau ditinggal jauh putrinya utk bekerja di pulau lain, namun akhirnya membiarkan putrinya itu pergi dibawa orang, orang yg dijabat tangannya pada saat ijab qobul :')

Terimakasih, Bapak.. Semoga Allah selalu sayang sama Bapak dan Ibu. 

Bisa!

untuk bisa sesuatu, terkadang yg diperlukan adalah 2 hal: nekat dan orang yang percaya padamu (karena mungkin saat itu kamu gak percaya pada diri sendiri)

2 cerita di keluarga kami
#1 bapak nyetir mobil
alkisah dahulu kala bapak tu sudah mahir setir mobil, tapi karena suatu hal, selama sekitar 20 tahun beliau ga nyetir mobil. lalu pada suatu mudik-bersama, kami dan keluarga bude (kakaknya ibu) rame-rame naik sebuah mobil. yang nyetir kakak sepupu. nah, sopirnya ini ngantuk dan pengin tidur. maka pindah lah dia ke seat belakang sambil bilang "udah, Lik Lan aja yang nyetir". kami semua menentang. come on! 20 tahun ga pegang setir! tapi trus sang kakak sepupu ini bilang "udah tenang aja. pasti bisa". well, walaupun adegan selanjutnya adalah kami semua duduk tegak saing tegangnya (kecuali kakak sepupu yang tidur di belakang), sambil komat-kamit berdoa sepanjang jalan, tapi lihat sekarang: bapak mahir menyetir mobil kembali. kita udah merasakan manfaatnya :)

#2 saya nyetir motor
waktu SMA kelas 3, saya pertama kali nyoba mengendarai sepeda motor.belom jaman matic waktu itu, jadi saya belajarnya pake motor bebek. beberapa kali jatoh sih, tapi ya gak parah-parah amat. belum juga saya mahir, suatu hari, saya harus berangkat les LIA. jatah abses udah abis (hehe). biasanya saya diantar bapak. maka sore itu saya guncang-guncang badan bapak yang sedang tertidur, minta diantarkan ke LIA Galaxy. yang dibangunin malah bilang begini "kamu udah bisa kan (naik motor)? tuh kunci di sana. kepala bapak pusing" lalu beliau tidur kembali. What? bawa motor dari Pondok Timur ke Galaxy? yakin??? akhirnya karena waktu semakin mepet dan ga tega sama yang kepalanya lagi pusing, bismillah aja deh, berangkat lah saya ke Galaxy. pelan-pelan banget. sambil komat-kamit berdoa. alhamdulillah perjalanan pulang-pergi lancar. alhamdulillah jadi bisa bawa motor saat di jogja (note: motornya dipaketin, bukan dikendarai loh yah. bisa jantungan ibu saya, hehehe).


Lalu lalu.. soal nyetir mobil... hehehhe
berarti kedua faktor tsb belom ada nih. saya-nya belom nekat :p

Kamis, 22 Oktober 2015

PLONG!!

Alhamdulillah wa syukurilah.. Di hari ulang tahun Mr S ada dua tambahan kebahagiaan yang tak terduga.. *sujud syukur*

#1

Sekitar jam setengah sembilan pagi. Tiba-tiba ada suara ketukan di glass block tembok kamar kami. Ketukan di glass block adalah cara komunikasi kami dengan Bu Haji belakang.

Ada apa ya? Mau dikasih gorengan sisa jualan nasi uduk kali. Hehe ngarep.com

Mr S yang keluar nemuin beliau soalnya kalo aku kan repot kudu pake jilbab dulu. Gak seberapa lama Mr S kembali lagi ke kamar. Yah, kok ga bawa piring atau plastik gorengan?-batinku. Tapi rupanya yang baru saja diterima jauuuhhh lebih baik daripada gorengan. Amplop! Isinya uang sejuta. Si Bu Haji rupanya baru punya uang untuk membayar hutang kepada kami.

Ya Allah.. Alhamdulillah...
Dari kemarin lagi pusing mikirin uang buat cicilan rumah masih kurang 800ribu. Sudah menyiapkan mental untuk pinjem duit ke ibu atau bapak. Tapi rupanya ada jawaban lain atas permasalahan tersebut. Solusi yang bikin PLONG!

#2

Lagi sendirian di kamar. Mas Suami udah berangkat ke sekolah. Tiba-tiba mama masuk ke kamar. langsung mendarat di kasur trus bercerita. Bercerita memang hobi mama. Aku jadi pendengar aja biasanya. Sambil sedikit-sedikit menimpali.

Mama rupanya baru dapat cerita bahwa anaknya Bu Haji baru jual tanah bagiannya buat bikin rumah. Niatnya mau pisah dari orang tua. Bla bla bla. Cerita terus mengalir. Sampai masuk ke bagian ini,

"Tadi papa udah bilangin ke si Isti. Duit segitu mah ga cukup buat bangun rumah. Mendingan buat DP KRP rumah aja..."

Rumah. KPR. Rumah. KPR. Rumah. KPR.

Tiba-tiba jantungku berdebar-debar. Aku sempet ngintip ngeliat ke cermin, mukaku datar. Mood mama sedang bagus. Rasanya ini momen yang tepat.

Bismillah...

"Ma, aku sebenernya punya rahasia. Sebelumnya aku minta maaf ya ma. Ini dirahasiain karena Mas takut mama kepikiran trus stres trus sakit karena ngiranya kita bakal ninggalin mama."

Lalu mengalir lah ceritaku. Bahwa kami sudah punya rumah sendiri. Jantungku masih berdebar-debar menunggu reaksi mama.

"Ya Allah neng.. Mama mah seneng. Seneeeeng banget malahan..."

Allahu Akbar.. Alhamdulillah... PLONG!!

Mama menerima kabar tersebut dengan suka cita. Matanya berkaca-kaca dan suaranya serak. Mama paham alasan kami membeli rumah dan paham alasan kami menyembunyikannya dari mama. Tapi tetap mama minta kami nemenin mama selama mama masih hidup.

Rasanya aku pengen berlari ke rumah kami tersebut. Memeluknya dan berkata "kamu sudah bukan rahasia!".

Lalu mama memanggil papa. Papa juga alhamdulillah senang. Malah respon pertama papa adalah menjabat tanganku. "Selamat ya!" katanya :')

Yah, walaupun belum bisa pisah mandiri, tapi setidaknya alhamdulillah sudah plong karena gak ada yang ditutupi.

Rabu, 21 Oktober 2015

Happy birthday Mr S

Everybody loves surprise
Everybody loves to be remembered

Itu aja sih dasarnya. Makanya lagi bokek pun tetep diusahain ada something sweet sebagai kejutan di hari lahir suamiku tercintahhh..

Dengan budget yang amat minim dan persiapan yg cuma sehari sebelumnya dipikirin mau bikin apa.. jadi lah sebuah "kue" ulang tahun super simpel ini :') kita sedang harus berhemat, ya say :')

Kue dibuat dari hanya 3 lembar roti tawar yang dibeli -gara-gara penasaran kok tu roti murmer tapi laris amat- di koperasi. Diolesin margarin plus kasih mesis setelahnya. Ditumpuk, lalu diolesi selai coklat -yang murmer pula- di sekelilingnya. Toppingnya pake potongan buah kiwi yang kemarin dibeliin ibundo waktu liat pameran flona di lapangan banteng, dan jeruk yang emang udah ada di kulkas. Ditambahin sebuah lilin mungil biar lucuk kuenya :D

Jadi tadi bangun jam setegah tiga pagi untuk nyiapin 'birthday cake dadakan' tersebut. Karena cuma tinggal olas oles aja maka gak pake lama kok bikinnya. Sekalian deh aku manasin wedang jahe yg semalam kubikin, plus soto buat kami sahur nanti.

Lalu kubangunin Mr S. Surprise cakenya dia terima dgn wajah kombinasi antara ngantuk, kaget, seneng, sama heran. Hihi

Abis tu kita potong kuenyaa.. Susah juga ya potong kue yg ada topping buahnya. Beberapa potong buah terpaksa disingkirin dulu sementara kuenya dipotong. Habis itu nyammm.. :9

==o0o==

Selamat ulang tahun suamiku...
All best wishes will be sent directly to our God, Allah subhanahu wata'ala :)

Minggu, 18 Oktober 2015

One shocking feeling : bapak galak!

Malam ini ada satu perasaan terkejut yang menclok ke kepala. Perasaan yg sejujurnya sih harusnya aku gak terkejut ya.. Harusnya sih aku udah ngerasain itu sejak aku masih sangat kecil. Iya, aku pernah ngalamin juga, tapi kesan tsb ga menclok mendalam di hati dan otakku, jadi yaa aku biasa ajaa.

Entah ni yg baca bakal percaya apa gak. Percaya bahwa keterkejutan yg kumaksud tadi adalah...

Aku terkejut menyadari bahwa bapakku GALAK.

Aneh gak sih umur udah mau kepala tiga, gede di bawah ketek ibu-bapak, ada apa-apa selalu yang dituju tuh ibu-bapak,,, tapi baru nyadar kalo bapak galak. Hahah

Dalam memori aku memang ada sih kejadian yg melekat di otak pas aku diomelin bapak waktu aku masih kecil. Tapi kalo itu emang aku yg salah, so sewajarnya bapak marah. Aku jg ingat bapak berrrrrrkali-kali dengan tegas tidak mengijinkan aku atau melarang aku berbuat sesuatu. Tapi itu juga kan sewajarnya, toh beliau bapakku. Semuanya aku terima dengan ... ikhlas? Apa ya istilah yg tepat? Pokoknya tuh semua itu aku terima aja tanpa kemudian berpikir bahwa bapak tu galak.

Kadang ngerasa gak ngerti juga sih kenapa kakak sama adekku cenderung takut sama bapak. Bukan takut yg berlebih sih, tp rasanya yg berani narik-narik tangan bapak, ngusilin bapak, ngeledekin bapak, dll dst dsb.. yg paling-paling-paling-paling.. ya aku. ~~he, maap ya pak ^^v

Nah, tapi malam ini ada kejadian yg kesannya sangat mendalam buat aku dan membuatku akhirnya sadar bahwa bapak tu galak.

Ceritanya bapakku yg sudah purna tugas alias pensiun itu sedang membantu ibundo menyelesaikan laporan kegiatan kantornya. Ibundoku ini memang soal teknologi agak-agak kurang, beliau pun menyadarinya. Sementara itu laporan sistemnya online, jadi lah bapak dimintai tolong. Aku juga. Nah selama online ngerjain laporan tsb ada interupsi-interupsi dari ibundo yang bikin bapak geregetan dan marah-marah. Misal ada pop up adv yg muncul di browser, eh ibundoku ini malah ngebahas iklannya bukannya laporannya. Bapak ngebentak "itu gak penting! Ga usah dipikirin! Ini aja dipikirin yang penting-penting!".

Seriously, itu beneran ngebentak. Aku aja sampe nyeletuk "ih bapak galak". Hehe

Trus misalnya ada penjelasan bapak yang ibu gak ngerti, itu bapak akan njelasinnya kaya orang ngomel; dengan nada keras. Aku sampe ngerasa harus ngimbangin dgn memberi penjelasan supaya di satu sisi ibu ngerti yg bapak maksud tanpa ngambek karena dibentak melulu, dan di sisi lain bapak lega karena ibu ngerti pada akhirnya. ~~Ini pas ditulis berasa sok hero banget gue. Hahahaha #tepokjidat

Ketika bapak ngomong dgn nada keras itu lah kesan mendalam bahwa "bapak = galak" muncul. Dan itu aku beneran sempet kaget menyadari bahwa bapak galak. Iya sih galaknya ke ibu, bukan ke aku. Tapi pokoknya bapak galak. Hehe

Kok gak dari dulu-dulu ya aku ngerasa bapak galak? *mikir*

Ada untungnya juga sih ga memiliki perasaan macam gitu dr dulu pas aku masih kecil. Ga asik kan kalo aku takut sama bapak. Kepribadianku jg pasti gak begini, sedikit banyak pasti terpengaruh deh. Jadi ya aku bersyukur aja. Alhamdulillah.. :)

Lalu apakah skrg aku jd menganggap bapak = galak-no-matter-what? Ya gak lah. Bapak tetep bapak yg aku kenal; perangkai kata bijak terbaik dalam lingkaranku, sekaligus pelindung dan penghibur saat aku lg di kondisi yg gak preferable :)

Semoga bapak -dan pastinya ibundoku tercintah- selalu dalam lindungan Allah.. Selalu dalam kondisi kecukupan, sehat, dan bahagia. Aamiiiin..

Daddy's little girl,
~Na

Selasa, 13 Oktober 2015

Di atas ranjang kami...

Lewat midnight nih. Mari ngomongin urusan ranjang.. hohoho

No I'm not going to tell some taboo story here. Trust me ;)

Pokoknya, ijinkan saia untuk menceritakan aktifitas kami malam ini di atas ranjang peraduan kami. Ahayyy..

Di mulai dari sebelum maghrib. Aku ketiduran. Bangun pas denger adzan maghrib. Ngulet-ngulet. Mandi.
My hubby gantian yang bada maghrib ketiduran. Capek mungkin. Biarkan saja lah. Aku ke dapur. Ada es kelapa muda. Sruputttt... Nyammm.. Alhamdulillah segerrrr.... :D

~~Nah, gak ada yg tabu kan? :P

Sambil mandangin hubby tidur, tanganku meraba-raba.. mencari amplop koreksian UTS yg td sengaja di taro di bawah tempat tidur. Semangat ngoreksi!!

Jam 10an hubby bangun. Laper. Aku temenin dia makan. Eh, kayanya semurnya enak. Ikutan makan deh.. bye bye diet :p

Habis makan, kita balik masuk kamar..

Tangannya langsung sibuk. Tanganku juga... Dia dengan remot TV di tangannya, sedangkan aku dengan koreksian. Lanjuuuut ngoreksi. Hehehe

Gak berapa lama, hubby menyusulku. Ambil koreksian. Lalu kami bersama mengoreksi ujian murid-murid tercintah.

Posisinya sama; tengkurep di kasur. Hoho

Jam 1 malam aku rampung, while hubby is still marking. Semangat yah, sayang! *Cup

Trus aku ngetik ini deh. Sebagai pengantar tidur. Zzzz...

~~Beneran kaaan ga ada yg tabu? Jangan nyesel yah! Hahaha.. Yah beginilah kalo sama-sama guru. Bermesraannya di kasur sambil ngoreksi. Lagi haid juga soalnya. Haha..

Nighty night *cup

Senin, 05 Oktober 2015

D*mn tespack!

~judulnya itu loh.. hahaha

Ok, jadi ceritanya H2C kembali melanda. Been late for my period by almost a week. a.l.m.o.s.t. forgive me from being this weak, tapi emang gue selalu penasaran donk kalo udah nelat gitu. Heemmmm...

Beberapa bulan belakangan ini siklus gue cakep banget. Teratur. Eh trus ini telat.

Kemaren, pas telat 4 hari, jiwa kepo melanda dengan dahsyatnya. Bongkar-bongkar laci, lalu nemu sebuah TP. Tes. Trus gati hancur. Bukan hanya karena garis nya cuma satu, namun karena... lah ini kok tanda merahnya blaur gitu dah? Kaya TP yg ga kering-keringpasca dicelup ke urin. Fix eror.

Tadi pagi, telat hari ke 5. Tes lagi pake TP baru yg dibeli kemarin pas di stasiun (ada apotek Generik di dalam stasiun). Celup. 30 detik tegak. Trus rebahin. Tinggal solat subuh. Abis tu tengok si TP, ada garis super samar oi! Hahaha.. macam PHP saja ini bah! >.<

Begitu lah. TP yang kecil dan ringan itu bisa menyiksaku. Hahaha..

Mari berharap utk yang terbaik. Bulan ini Mr S ultah pula. Hope to give him the best gift in his life! *praying*

Ps: besok mau TP lg. Tadi nemu TP di laci obat. Mayan bisa dipake. Hehehe

Bestfriends

Emamg dasar yah, resiko menjadi orang yg kepo itu kadang sungguh teramat ..... menyiksa diri. Hahaha
Liat ask.fm-nya si A, B, C and so on.. liat Fbnya si Anu, Ani, Ano, etc.. Entah mengapa oh mengapa yg tersapu oleh mata ini adalah pemandangan indah mereka dgn sahabat-sahabat mereka.
Is that wrong?
NOPE!
It was just kinda bringing me to a conclusion: they are so happy. Then asking my self; kok mereka bisa saling sedekat itu yah? Kok gue gak ada di antara mereka yah? Atau, Klo gue sahabatannya sama siapa donk?
Errrr... apasihini... kenapa jadi baper. Hahaha
>> note that today is the first day i type 'baper' in this blog (also saying that in my life. Hahaha)
Iya abisnya gini. Cek deh. Ke reuni yang mana gue bisa so enjoy hahahihi and nostalgila like a freak, selain kalo reuni plus nostalgila bareng ibundo. Huks.. it's an ironic, yet romantic. Lah gimana donk, been living in this planet for almost three decades and the only joyable moments are around my mom :') kaya gue tuh ga pernah ngunyah bangku sekolah (iya lah gue bukan rayap. Bahahaha).
Mungkin salah gue juga sih. Gue terlalu introvert. Gue terlalu egosentris. Gue terlalu sering nolak ajakan jalan bareng. Gue terlalu gak asik. Ah.. :'(
Beneran gitu gue gak punya bff?
Wait, ummmm.... I had some. HAD.
Waktu SD gue punya beberapa teman yg saking deketnya sampe kita berdua tuh kaya anak kembar. Pramuka bareng, maen bareng, tugas kelompok selalu bareng. Tapi ya udah, gitu aja. Pas SMP jauhan trus abis itu makin datar -____-'
Waktu SMP jg ada temen yg barengan di PMR, semeja waktu kelas 1, belajar bareng, berangkat bareng, belajar pake jilbab barengan.. Tapi trus sama lah, SMAnya kita misah jauh. Jarang kontak. Trus ya udah gitu aja.
Pas SMA ga ada deket sama satu org aja. Aku punya sekelompok (tu kan dikit amat) temen yang sering barengan. Bareng di organisasi, bareng pas pulang sekolah, dan skrg jg masih bbrp kali kumpul bareng sih. Yah, yang ini mah lumayan lah. Guenya aja kali yg td kurang bersyukur.
Pas S1, temen gue makin beragam latar belakangnya. Gue cukup dkt sama beberapa (see? Cuma beberapa. Huks) orang. Skrg masih kadang2 tanya2 kabar. Tapi udah gitu doank. Ketemuan kalo ada perlunya aja dan kebanyakan gue yg nyamperin mereka.
Pas S2, gue jd anak paling kecil di kelas. Yg lain udah mami-mami dan papi-papi. Pernah sih kita hang out bareng. Nyalon bareng aja pernah. Tapi trus yaa sibuk masing-masing.
Maksud gue, kok gue jarang yah awet temenan deket sama sekelompok orang gitu? ~baper lagi~
Ah udah ah. Sebenernya kalo kata orang bijak mah, the true friends stick with you on your bad times. Yatapi masa I harus ngalamin bad time (na'udzubillah) dulu to see whose my true friends are? :(
Ini mungkin pengaruh hormonal semata jd baper-baperan begini. Hahaha.. I see many things clearer when I'm in a good state of mood, body health, and economic condition. Hahaha
"Teman yang baik itu seperti bintang. Mereka jauh tapi cahayanya menerangi gelapnya malam" ~got it somewhere.
Dear my stars, wherever you are, please shine brigther so I can feel warm, calm, and happy for having you in my life.
And forgive me for not being the best bf for you.. 

===o0o===
u.p.d.a.t.e

Seorang sahabat mengirim pesan via whatsapp
"Aku jadi baper kan baca blog yang bestfriend... Jadi selama ini kamu anggep aku apa? :("

Ups! ^^v

Hai Frida sayang.. You're more than just bestfriend for me. More like sister. Little sister who sometimes has wiser thoughts, smarter solutions, and greater ideas. It's just we are separated by cities that we can't hang out and take some selfie photos. Not even once a year! T_T Hope you, mas budhi, and hanif are always in good sate of health and wealth ;) And always... Be strong! Be patient!

Selasa, 29 September 2015

Tetangga Masa Gitu ~part#2

Hemmmm... males banget ternyata yah nulisin sesuatu yg kita gak suka?! Enakan nulis cerita yg indah-indah.. lucu-lucu.. hehe

Tapi hayuk lah kita lanzuts..

======

Jadi, setelah si mbak tomboy dan mbak berjilbab beserta 2 krucil mereka masuk ke komplek, para bapak-bapak itu masih ngerumpi. Aye yg ga kenal siapapun di sana akhirnya nempel saja sama suami yg kebetulan pengen ngobrol sama si bapak-bapak tersebut. Yah saia mah ikut-ikutan aja nimbrung. Ndengerin tp ga komen. Ikut ketawa kalo ada yg lucu dan ikut geleng-geleng kalo ada yg gak masuk akal.

Topik utama masih tentang si tetangga yg itu. Saia yang sempat berfikir bahwa wajar lah mereka panik coz ada anak lagi sakit, eh akses jalan mereka ditutup, jd perjalanan mereka terhambat, jd mulai terpengaruh sedikit demi sedikit. Hehe

Mereka itu, menurut para saksi mata, seminggu lalu jg bikin ribut waktu ada gathering warga yg jg nutup jalan. Itu gathering ceritanya isinya olah raga bersama; jogging dan senam-senam gitu. Posisinya sama, mereka baru datang entah dari mana, mau masuk komplek ga bisa, trus marah-marah. Ribut mulut bahkan sampe nendang motor yg lagi diparkir.

Lalu obrolan jd merambah ke "itu orang dari hutan mana sih? Dah yok kita balikin aja ke habitatnya". Weh.. nah lho.. emang yah, jangan sampe dah kita jd orang yg menyebalkan bagi lingkungan kita. Salah-salah malah kita jd disamakan sama binatang hutan macam begitu. Duh, na'udzubillah.. Jadilah kita sebagai orang yg diingat karena kebaikan kita, yah, permirsah!

Cerita demi cerita ttg si tetangga tersebut terus bergulir. Konon kabarnya mereka itu memang sudah "bawaannya" begitu. Sekedar utk patungan instalasi penerangan jalan ogah. Arogan. Dst.. Sampe-sampe ada kalimat seperti di bawah ini;
# biarin aja, ntar dia mati mau nguburin sendiri mayatnya, gausah kita bantu
# besok bapak (~yg tinggal di samping rumahnya) bilang tuh, 'ini jalanan saya' di depan rumah bapak. Biar dia ga usah lewat situ kalo kita lewat depan rumah dia aja dia gak suka

Hem.. Di satu sisi saya ada gak sukanya juga dengan bapak-bapak rumpi tsb. Ini udah cenderung berlebihan sebenernya level ngomongin orangnya. Normalnya saya akan balik-kanan-bubar-jalan kalo berada di tengah orang-orang tsb. Eh tapi si Abang suami yg lg seneng bergaul sama tetangga barunya itu gak mau diajak udahan. Haiks..

Gara-gara bertahan di rumpian tsb, jadi tau deh saia ada tetangga-masa-gitu yang satunya. Well, yang satu ini lebih ke arah lucu (namun tidak menggemaskan) sih.

Jadi ceritanya di tengah cluster kami ada sepetak tanah utk taman. Awalnya masih kosong melompong. Lalu belum lama ini ditanami pohon mangga dan kelengkeng oleh para bapak-bapak (rumpi) tsb. Nah, saat pohon mangga baru ditanam, si tetangga lucu ini berkata "Ni pohon nih, kalo udah gede, daunnya ngotorin halaman saya deh pasti. Cabut aja lah!"

Ga nemu lucunya?

Jadi gini, itu pohon masih kecil aja udah disalah-salahin. Sambil ditunjuk-tunjuk pula. Seandainya tu pohon mangga adalah anak kecil, mungkin dia bakal tumbuh mjd anak yg tidak percaya diri. Hehe

Pada mulanya saya kembali berpikir "haiyyyaaahhhh ternyata tetangga yang agak-tidak-menyenangkan ada lebih dari satuuuu". Tapi di tengah usilnya pikiran tersebut meraung-raung di orak saya, ada seorang bapak rumpi tsb, yg padahal wajahnya agak seram, bilang begini "kalo saya jadi dia, saya bakal bilang 'oh gapapa tanam ini depan rumah saya, tapi kalo berbuah yg bagian sini buat saya!' Kan enak". Kalimat tsb disambut dengan tawa para pendengar. Memang bukan diutarakan dgn maksud serius soalnya.

Iya juga ya. Ini soal perspektif. Mau lihat sesuatu dr segi buruknya (=sampah) apa positifnya (=buah). Kan kalo itu pohon dipertahankan, lalu berbuah, buahnya bisa kita nikmati bersama. Asik kan tu tetangga-tetangga ngumpul ngerujak rame-rame. Atau kalo udah mateng kita nikmati bareng-bareng buahnya. Hehe

======

Udah ah, ngantuk. Semoga saya dan pemirsah semua bisa menjadi tetangga yg baik di lingkungan kita yah.

;)

Sabtu, 26 September 2015

Tetangga masa gitu? ~part#1

Rumah baru, tetangga baru. Meskipun isi rumah ga baru, hehe.. (kasur nggondol dari rumah ibu, begitu pula kompor, panci, dkk) ^^

Q: pindahan?
A: gak kok
Q: kok udh ngisi rumah?
A: just in case mau nginep

Kaya semalam nih, kami berdua nginep di rumah baru kami.

Q: udah selesai rumahnya?
A: kreditnya belom, masih belasan tahun (hah), nutup area belakang rumah juga belom, tukangnya lg mudik dulu
Q: trus nginep pas masih berantakan gitu?
A: iyap. Pasir dan kerikil di depan pintu rumah. Puing-puing dan tanah di belakang.

Yah begitulah. Bukan tanpa alasan sih kami nginep. Semalam tu ada panggung puncak peringatan HUT RI ke 70. So late, eh? Iya sih udah September inih. Akhir september, lebih tepatnya. Ya biarin aja, RWnya maunya semalam trus lo mau nyolot ga boleh gitu karena udah telat? Aye sih kagak dah. Meskipun ternyata ada tetaangga aye yg nyolot di tengah berlangsungnya acara. Alasannya bukan karena ntu acara udh telat pula, kayanya emang hobi cari ribut tu orang. Hadeuh.. mimpi apaaa aye maaak 'kenalan' sama tetangga model begitu di malam pertama nginep di sono? -_______-'

Jadi ceritanya sbg warga baru yg blm kenal banyak orang, pas lagi acara kami melipir sejenak. Kebetulan emang mau telpon ibundo yg lg nemenin adek yg sdg dirawat di RS ~~get well soon lil bro~~

Sesaat kemudian, datanglah tetangga yg udh kami kenal, pak R dan pak C. Menurut sejarah perkembangan cluster rumah ini, pak R ini adalah penghuni yg paling pertama nempatin rumahnya. Masih lajang sih,panggilan 'pak' sekedar utk menghormati. Klo dari wajahnya sih lebih pantes dipanggil 'bang'. Orang sumatra soalnya.

Sementara pak C ini adalah pamud alias bapak2 muda. Punya jabatan sbg koordinator keamanan cluster. Orangnya asik sih. Si pak R jg. Kebanyakan yg kami kenal di sini emang orangnya asik-asik.

Nah, malam ini acara panggungnya sebenernya adalah perhelatan RW, cuma lokasinya di wilayah RT kami. Posisinya di kavling kosong persis di belakang rumah kami. Pas baru datang aku udah merenggut tuh, duh kagak bisa tidur dah.. Tapi ya udah lah ya, ga setiap hari kok. Kalo emang susah tidur tinggal pulang kan ke rumah ibu.

Ditengah asiknya kami mengobrol, datanglah sebuah mobil merah yg dikendarai dengan agak ngebut untuk ukuran mengemudi-di-area-komplek-perumahan. Lalu itu mobil berhenti tepat beberapa jengkal dari pak R. Kupikir ni orang lg becandaan aja kali sama si pak R. Konon katanya warga sini kan suka becandaan.

Ternyata orang di dalam mobil itu marah-marah. Seorang ibu berjilbab (jilbabnya cuma disampirin doank sih, cuma nemplok gitu) dan seorang gadis tomboy di belakang kemudi ngomel-ngomel tentang acara panggung. Mereka marah karena akses masuk ke rumah mereka terhalang acara panggung, sementara ada anak kecil di seat belakang yg sedang sakit.

Isi omelan mereka kurleb begini nih
# baru dateng aja disuruh muter jalan
# ini kan jalanan umum, fasilitas umum, kenapa dipake buat begituan (panggung)? Kan jd ga bs lewat
# ini ada anak sakit, kalo ga sakit sih gapapa
# emang yakin kalo semua warga tu sehat, kalo ada yg sakit trus perlu dibawa ke RS tp jalannya ditutup gimana?!

-______-'

Lebay

Ya, oke lah. Awalnya saya pikir jg ya maklum aja mereka panik, ada ank yg sakit di dalam mobil. Jalan mereka terhambat shg mereka ga bs cepat sampai rumah dan mengistirahatkan si sakit. Jadi wajar mereka panik lantas marah-marah.

Tapi trus ketika pak C menawarkan solusi "mobil di parkir aja di sini, kita yg jagain. Adeknya saya gendong masuk lewat gang". Solutif! Saya pikir memang ya udah lah yg penting si anak kecil bs istirahat. Tapi eh tapi ternyata mereka tetap ribut, bo! Si pak R pula memperkeruh suasana dgn makin ngajak ribut. Menyebut-nyebut si tomboy ini ga usah sok karena warga juga bukan. Pake minta ditunjukin KTP segala (sempet berpikir iseng, halah si pak R pengen tau namanya aja keles, hehe). Si tomboy ini dgn marah membalas "gue punya rumah di dalam (nunjuk ke arah cluster)". Sampe di sini yg terlintas di kepala gue adalah --> semoga ni orang cuma asal tunjuk, ga beneran punya rumah di cluster gue. Amit-amit dah punya tetangga begono.

Si pak C tetep stay cool, ga kaya si pak R yg panas darah premannya. Mereka terus ribut ga jelas. Kalo kata gue mah useless banget.

Si pak R lalu balik badan. Gak lama gue tau bahwa si pak R memanggil panitia yg lain, termasuk pak RT kami.

Begitu dikerubutin bapak-bapak panitia, ni cewek dua orang keliatan agak 'terkendali' tuh. Soalnya td si tomboy sempet mau nampar pak R pake sendal segala -____-'

Pak RT menjelaskan bahwa ini acara bersama, jd wajar kalo pake fasum. Lalu menawarkan solusi yg sama dgn pak C. Bla bla bla bla.. akhirnya si pak C menggendong si anak yg sakit lalu mereka masuk cluster lewat gang sempit samping rumah kita.

Beberapa tetangga yg berperan sbg panitia, termasuk pak R, masih berkumpul ngobrol. Aku narik-narik Mr S untuk meninggalkan mereka dr sejak masih ribut-ribut, tp agaknya Mr S betah nonton begituan -__-'

~~~

Bersambung aja deh, ada panggilan nyate. Hoho..

Senin, 21 September 2015

"Sapinya kecil, mas..."

Menjelang idul adha nih. Hati pun merasa merana..
Hehe ini beneran loh..
Yah, kayak kehidupan kamu-kamu lah, hidup saya juga ada naik-turunnya. Walaupun kadang ngerasa ih flat amat sih hidup gue! tetep aja yah it's never really flat.

Dan kebetulan sekarang lagi di  posisi turun.. :')

Jadi, yah gitu deh. Idul adha. Ga punya duit. Qurbannya??

Sempet sih "merelakan" diri untuk gak qurban tahun ini. Insya allah tahun depan qurban lagi. Sempet udah mantap begitu. Walaupun tiap liat kambing atau sapi rasanya gundah gulana.

Nah terus ceritanya skenario hidup berubah. Suatu hari ditelpon sama bundo yang minta dianter ke ANTAM. Beliau mau melepas sekeping emasnya untuk bisa berqurban. Kebetulan bundo juga lagi paceklik, makanya samoe melepas LMnya.. Lalu saat menemani beliau terjadi percakapan yang kemudian bener-bener bikin galau balik lagi..

+ ga sayang bun emasnya dijual?
- sayang lah. tapi dari pada jadi tabungan di dunia mending jadi tabungan di akhirat.

JLEBHHHH!!!

Pikiranku melanglang buana pada sejumlah saldo di tabunganku yang sengaja aku amankan untuk keperluan kepepet terkait sama cicilan rumah. Iya rumah yang tempo hari aku urus KPRnya. Terasa banget megap-megap buat nyicilnya akibat dari perubahan status pendapatan di sekolah. Tadinya udah bertekad bahwa itu duit ga boleh diutak-atik kecuali pas kepepet ga punya duit buat cicilan rumah.

Tapi.. tapi.. Duh.. Galauuuu....

Skenario makin berubah saat seorang temen yang kebetulan menjadi ustadz di lingkungannya cerita bahwa di jamaah-jamaah di masjidnya juga lagi patungan sapi. Pas aku tanya berapa, dijawabnya begini; murah kok, di tempat ane cuma dua jutaan.

OK. Ini menarik! Soalnya tahun lalu aja aku qurban kambing 2.5juta. Keluarga yang pada patungan sapi juga sekitar segitu. Lalu dengan segala kondisi ekonomi di negeri tercinta ini, pikirku, masak iya masih ada biaya qurban dengan 'kepala 2'?!

Temanku ini meyakinkan bahwa, yes, ada kok. Jadilah dari kemarin otakku mulai agak optimis bisa berqurban. Cek saldo-saldo yang ada di tabungan. Ya allah.. paceklik bener ini saldo :') Ayo lah tetep optimis! Kata ustadz Ahmad Dahlan dalam film 'Sang Pencerah'; "Ibaratnya sumur, kalo udah kering berarti sebentar lagi akan hujan."

Nah, jadi sekarang udah optimis nih ya posisinya. Optimis bisa qurban dan optimis saldo bisa nambah lagi sebentar lagi.

Trus buka-buka facebook. Nemu posting si teman yang ustadz tadi. Beliau merekomendasikan sebuah nama penjual qurban bagi yang ingin membeli hewan dengan harga murah. Asumsiku, yang kemarin diceritakan pun sumber hewannya dari si penjual ini. Aku buka profil si penjual tersebut. Ada foto sapi.

Tapi sapinya kecil...

Aku cerita ke Mr S tentang foto si sapi tersebut.

+ ini loh fotonya mas
- oo ini... ya udah gapapa
+ Tapi, sapinya kecil mas...
- Biar kecil juga tetep sapi. Asal memenuhi syarat gapapa.
+ Tapi, sapinya kecil, mas...
- Siapa tau memang Allah sengaja menciptakan  sapi yang seperti itu supaya orang-orang yang kekurangan tapi ingin berqurban, tetap bisa berqurban. Kaya kita yang lagi paceklik begini.

Hmm.. Ya yaa.. Baiklah..
Bismillah..
Mari berqurban..

Semoga tahun depan bisa berqurban dengan hewan yang lebih gemuk dan besar. Aamiiin..

Senin, 24 Agustus 2015

Cerita tentang seorang muridku yang baik



Hari ini ketika sedang bertransaksi di koperasi sekolah, saya terpaksa membayar dengan uang pecahan 100ribu, karena di dompet tidak ada pecahan yang lebih kecil lagi. Tentunya saya meminta maaf sama penjaga koperasi karena dengan demikian beliau akan lebih repot mencari kembalian. Saat itu ada salah seorang murid yang baru saja menyelesaikan transaksinya tepat sebelum saya. Anak ini biasanya saya kenal sebagai anak yang cukup aktif di kelas, walopun nilai biologinya bukan yang tertinggi.

Dia menawarkan pada saya, “Saya aja yang bayarin, Miss. Duit Miss kan besar.” Kaget juga tuh saya. Tapi kemudian saya tolak, “Ga usah, nak, kamu kan belum kerja. Nanti lah kalo kamu udah kerja baru traktir-traktis saya ya, jangan lupa!” kata saya setengah bercanda pada bagian akhir kalimat tadi. Tapi wajahnya bersungguh-sungguh ingin ngebayarin, dompetnya masih dipegang di tangannya dengan posisi sudah terbuka, uang siap keluar. Saya tolak kembali.

Transaksi saya selesai. Anak tersebut pun sudah kembali ke kelasnya. Pejaga koperasi lalu bercerita, dengan sebelumnya meminta maaf karena tidak bermaksud ghibah. Hanya saja dia salut dengan si anak tersebut.

“Dia itu, bu, memang begitu anaknya. Suka mbayarin temannya. Pernah waktu itu saya menagih hutang koperasi salah satu anak kelas xii, soalnya hutangnya sudah lebih dari 100ribu. Yang ditagih mah bilangnya ‘iya pak, besok ya pak’. Nah kebetulan dia (waktu itu masih kelas xi) itu ada di sini dan denger omongan tadi, bu. Trus sama dia gini ‘ini pak, yang 50rb saya yang bayarin’. Padahal kalo dia jajan untuk dirinya sendiri dia akan perhitungan bu. Misal, kalo ada aqua gelas dia ga bakal beli aqua botol soalnya kan jadi lebih mahal. Gitu.”

Wow. Ternyata saya punya murid yang memiliki sifat luar biasa seperti itu; sederhana terhadap dirinya sendiri, namun loyal terhadap orang lain. Semoga kelak kau menjadi pemuda sholeh yang sukses, nak!

Kamis, 09 Juli 2015

Bagaimana Rasanya Tinggal Di Rumah Mertua?

Hai, saya Diyan, istri dari seorang lelaki pilihan saya yang bernama Sigit. Jadi, sejak setahun lalu saya mulai harus membiasakan diri dipanggil dengan panggilan Bu Sigit.

Suami saya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Yap, anak bungsu. Usia suami saat menikah sudah 37 tahun, jadi bisa dikira-kira sendiri lah usia orang tua mas suami ini yah. Hehe. Sedikit petunjuk, kedua mertua saya sudah beberapa tahun menjalani pensiun. Papa mertua pensiunan Angkatan Udara, sementara Mama mertua pensiunan kepala sekolah SD. Satu kesimpulan yang logis dari deskripsi tersebut adalah mereka sudah cukup sepuh.

Kakak semata wayang suami sudah jauh lebih dulu berkeluarga dan menempati rumah di kota yang sama, hanya berbeda kecamatan saja. Tapi bagaimana pun pisah-rumah is pisah-rumah. Tetap saja mama dan papa mertua terkategorikan sebagai "hidup sendiri" seandainya kami pun keukeuh pisah-rumah.

Menyadari bahwa mereka adalah jalan menuju surga bagi suami, maka di sini lah saya, bersama dengan mereka hidup sepagar sekaligus seatap. Cuma agak enaknya ini rumah punya satu sisi yang berupa sebuah kamar plus sebuah kamar tidur mandi plus sebuah kamar serbaguna dengan akses ke teras langsung. Agak-agak seperti paviliun lah. Tapi tetap saja, serumah is serumah. Dengan pelangi yang menghiasi hari-hari di sini. Eng, mendung juga sih kadang. Hehe.

Padahal kalau mau balik ke masa masih jadi jomblowati, duh saya mah ga lupa dah untuk berdoa semoga ga usah ngerasain tinggal di pondok mertua indah, alias PMI. Tapi mengingat ada doa lain yang saya hobi baca "Rabbi anzilni munzalan mubaarokan wa anta khoirul-munziliin" yang artinya "Yaa Tuhanku, tempatkan lah hamba di tempat yang berkah, Engkaula sebaik-baik pemberi tempat", jadi saya tetap meyakini bahwa this is the right place. Tuhan tidak pernah salah menempatkan. Bukannya Dia tidak mengabulkan permohonan saya, Dia malah hendak memberikan yang terbaik. Saya yakin itu.

Tapiiii... bukannya saya gembira ria ya tinggal di PMI ini. Hehe. Da saya mah manusia biasa yang penuh salah dan lupa. Secara jujur saya akan bilang bahwa tinggal di rumah ortu saya lebih enak. Bahkan tinggal di rumah kontrakan petakan mungkil mungkin lebih saya sukai. Namun kondisinya sekarang bukan begitu. Ya udah, dijalani aja. Biar bagaimana pun mereka (mertua) adalah surganya suami. Insya Allah surga saya juga. Aamiiin..

Saya menduga yang menjadi reader posting ini adalah mereka yang akan menikah dengan konsekuensi ikutan berupa keharusan tinggal di PMI, atau mereka yang memang sudah berada di posisi saya dan sedang mencari teman senasib. Hehe.

Masuk kategori manapun kamu, saya mau cerita dari sudut pandang saya. Pengalaman kita sangat bisa berbeda. Tentu saja ya, karena pada dasarnya apa yang kita alami di PMI akan tergantung pada beberapa hal
  • Sifat dasar kita sebagai menantu. Apakah kita cenderung easy going, atau perasa, atau pemberontak. 
  • Sifat dasar keluarga mertua. Saya memang hanya tinggal dengan mertua saja, tapi mungkin ada yang serumah isinya ada saudara-saudara ipar atau bahkan keponakan-keponakan. Dan tentunya tiap kepala punya sifat yang berbeda. Panjang lah kalau dijabarkan. 
  • Sikap suami/istri. Mereka yang menarik kita ke kehidupan keluarga mereka, maka sikap mereka akan banyak menentukan "rasa" dari tinggal di PMI.
  • Support orang tua kita. Ini penting banget dan pengaruh banget. Ada orang tua yang akan semampunya memberi pemahaman untuk kita bisa menikmati hari-hari di PMI, tapi ada juga yang malah mempengaruhi untuk get out aja dari situ. 
  • Lingkungan rumah mertua. Ini termasuk tetangga-tetangganya lho. Kenapa? Karena bisa jadi mereka sudah lebih lama kenal dengan keluarga mertua kita. Bisa jadi mereka menjelma sebagai tim supporter kita atau malah tim viliant yang menghembuskan aroma gak sedap melalui ucapan-ucapan ga enak yang terlontar. Kalo kamu cukup kuat, sebenernya kamu bisa mengabaikan mereka yang ada di golongan kedua. Hehe
  • Kondisi ekonomi keluarga mertua. Siapa tulang punggung di keluarga tersebut, berapa banyak pengeluaran mereka, seberapa besar mereka butuh support kita. Ini ngaruh banget.
Perpaduan unsur-unsur di atas akan mengakibatkan hadirnya output suasana yang berebeda. Kamu juga bisa menemukan berbagai kisah tentang suka duka tinggal di PMI berikut tips-tipsnya dari berbagai sumber lain di dunia maya.

Yang paling enak adalah kalo kamunya easy going, keluarga mertuanya juga easy going dan ga terlalu rame(banyak rakytnya), suami/istri kita bisa seimbang antara sayang sama keluarga dan sayang sama kita, orang tua kita bisa memberi masukan yang baik, plus didukung lingkungan yang nyaman dan supportive. Kalo gak gitu? Saran saya dijadiin begitu aja. Kadang harus kita yang ngalah untuk memendam perasaan. Tapi tetep komunikasikan jika ada ganjalan apapun ke pasangan kita. Kalo urusan ekonomi tinggal kita aja yang nyesuaian, gak jadi beban, dan sebisa mungkin membantu.

Yang saya alami di sini adalah kondisi yang (juga) tidak ideal seperti yg saya sebutkan di atas. Tapi untungnya ada suami yang mau mendengarkan dan nenangin saya. Tapi tetep yah, ada aja perasaan ga nyaman. Misalnya nih mama saya tu hobi banget masak tapi karena dasarnya beliau tu wanita yang mandiri banget, saya nya malah jadi suka bingung mau ngapa-ngapain terkait  dapur karena semua akan jadi "udah mama aja". Belum lagi sifat perfeksionis mama mertua terkait makanan dan dapur, jadi lah apa yang saya kreasikan belum tentu disentuh olehnya. Trus gimana saya nyikapinnya? Crate my own peace. Toh enak tinggal makan, enak pula. Kalo lagi pengen berkreasi di dapur ya udah, bikin aja yang memang saya atau suami suka, lalu habiskan bersama. Tentunya bukan atas dasar ga-mau-bagi-bagi, tapi tidak memaksakan bahwa mereka harusmenerima apa yang saya buat. Take it easy aja, suka ya silakan ayuk kita makan sama-sama, gak suka ya udah sini saya yang habiskan. Hehe

Contoh lagi misalnya dalam pengeluaran rumah tangga. Kembali lagi ke sifat dasar mertua yang mandiri, mereka tu ga mau ngerepotin anak-mantu untuk urusan semisal gaji pembantu, bayar listrik, belanja bulanan, dll. Mungkin juga atas dasar bahwa suami saya pun belum dalam kondisi bisa memberi lebih. Kalo kamu ada di situasi yang sama kaya saya, kamu bagaimana? Kalo saya mah lagi-lagi create my own peace. Kalo memang keukeuh maunya begitu ya udah, saya cari celah sisi lain di mana saya dan suami bisa membantu keluarga ini. Intinya jangan keenakan, gitu. Misalnya kita lagi belanja, ya belanjain untuk mereka juga. Kalo beli makanan ya ga beli buat berdua doank, tapi beli untuk sama-sama. Atau bisa juga dalam bentuk ngasihnya ke keluarga yang lain, misalnya cucu mereka.

Nah, kalo terkait dengan omongan tetangga atau lingkungan lain di sekitar mertua, coba ambil positifnya aja. Kasus saya pernah saya diceritain pembantunya mama dan tetangganya mama bahwa mama ga suka kalo saya dan mertua pergi jalan-jalan, foya-foya lah (padahal jalan-jalanya super ngirit, hehe). Saya mah senyum aja, toh di depan saya mama sekaligus papa mertua tidak pernah melarang dan malah menyatakan dukungan. Itu aja yang saya "bungkus", apa yang diomongin di belakang saya itu di luar kapasitas dan tanggung jawab saya. Abaikan aja, demi terbentuknya my own peace. Bukannya saya ga sayang sama mereka lho, tapi kalo dipikirin banget-banget yang ada nanti saya minggat lagi. Hehe. Lagipula saya pun tidak memiliki kemampuan untuk memvalidasi omongan mereka yang ada di lingkungan kami. Jadi : yang saya dengar secara langsung adalah yang berlaku. Titik.

Yang lain-lain tinggal kita yang adjust, biat bagaimana pun kan kita yang orang baru di situ. Saya pernah dicurhatin temen bahwa suaminya ga suka diajak nginep di rumah keluarganya (berarti suami sebagai mantu dan ortu istri sbg mertuanya) karena di sana sering ngomongin orang, dan si suami ga suka. Secara pribadi saya bilang bawha ga seharusnya begitu. Ketika kita menikahi pasangan kita, kita sudah terikat kontrak menerima dia sekaligus keluarganya. Sekali lagi, kita yang harus adjust alias menyesuaikan diri. Dalam hal ini bukan berarti kita jadi ikut-ikutan suka bergosip, tapi kita cari cara suapaya mereka teralihkan dari bergosip. Banting setir topik obrolan adalah yang sering saya lakukan. Kalo udah ada tanda-tanda kitanya yang ga kuat, kita aja yang undur diri, balik ke kamar. Cari kesibukan di kamar.

Duh, udah saatnya masuk dapur bersama mama mertua tercinta untuk nyiapin hidangan berbuka puasa nih. Segitu aja dulu dari saya. Monggo diberi masukan buat saya yang masih harus banyak belajar. Hayuk juga untuk yang mau saling curhat. Hehe.

Salam damai ;)


Sabtu, 20 Juni 2015

Mengalah

The moment when you have to....

Just becouse you are the youngest. You should respect the older. Bla bla bla

.....

With all the feeling to hold. To not let it explode.

.....

All you learn from this is 'get use to it'.
Period

Jumat, 19 Juni 2015

Good people gonna be good

Jumat barokah. Alhamdulillah.. 3 buah jilbab gratis dari seorang kawan bak. Baiiiiik bangettt..

Nope, ni bilang baik bukan karena abis dikasih jilbab gratisan yak.. hehe.. Ni orang emang beneran baik. Semoga segera mendapat jodoh yg baik, aamiiiiin...

Makasii jilbabnyaaa... ;)

Rabu, 17 Juni 2015

Senang kau mekar

Aku kenal seorang gadis remaja. Sebut saja namanya Mawar (bukan nama sesungguhnya). She's nice and sweet. Nilai kelasnya dulu average lah.

Pernah suatu ketika dia menjadi anak yang 'agak bermasalah', in term of she turned to be like a stranger. Temen-temennya merasa aneh tapi terus sibuk sama urusan masing-masing, jadi ya udah lah.

Dia sendiri merasa dirinya bermasalah. Aku ingat cerita tentang dia kabur untuk bertemu seorang psikiater. Dari situ lah aku tau dia sebenernya anak yg cerdas; ga banyak yg kepikiran melakukan hal tsb, kan?

Well, sebenernya aku ga terlalu paham juga yg dulu itu masalahnya apa. Sepertinya ada hubungannya dengan dua kata: cowok dan internet. Tapi ya kan she was only a teenager. Labil.

Dia sempat menghilang juga, kalo ga salah. Aku ingat sempat kontak via messanger untuk menanyakan kabarnya dan (mencoba) menyemangatinya. Tipikal aku banget: ga nanyain masalahnya apa. Hehe. Percakapan di messanger itu membuatku merasa yang namanya guru tu harus berkata-kata baik, karena perkataan kita bisa berarti banyak.

Kemudian kisah berlanjut. This sweet Mawar entered her new life as a university student. I'm glad that she's there; in that campus, in that city, in those environments.. coz i know that she's really fine today. Nope, she's not, she's doing just GREAT.

Aku bahagia melihatnya menemukan kebahagian dan banyak pengalaman baru. She's traveling here and there to gain some more exciting experiences. Aku bahagia melihat foto-fotonya tersenyum manis.

Yah, walaupun ada satu yang hilang, yang aku harap suatu saat akan kembali: jilbabnya.

Jadi, aku seperti melihat Mawar yang dulu kuncup kini mekar. Cantik. Aku senang. Semoga keindahannya tak dirusak apapun lagi. Dan jilbabnya segera kembali ;)

Senin, 15 Juni 2015

Rejeki tak tertukar

Hari ini sekolahnya Mr S bagi rapot. Dan Mr S belum lama mengirimkan foto setumpuk kado. Biasa, dari para wali murid..

Antara senang dan sedih.
Kok aku ga ada yg ngasih kadoooo?? Hehehe

Kita tu sama-sama guru. Beda level aja. Mr S adalah guru SD, aku guru SMA. Kita padahal sama-sama bukan walikelas. Tapi yaa gitu.. rejeki masing-masing. Beda-beda. Mungkin aku Allah cukupkan dg honor bulanan yg alhamdulillah lebih besar dari guru SD.

Toh nanti kalo udah dibawa ke rumah jadi rejeki bersama. Hehe

Selasa, 09 Juni 2015

Isi Tasku

#Postingiseng
Lagi mbuka tas mau ambil sesuatu, ngaduk-ngaduk tas, malah keambil yg lain. Jd ngeh ni tas udh kaya kantong doraemon XD

Emang kaya kantong sih morfologinya. Yg punya jg sama kaya doraemon; bulet. Okesip.

Kamu mau apa? Mungkin ada di tasku :p
Note: kalo mau cemilan, sayang sekali udah aq kasihin ke temen barusan :p

Senin, 08 Juni 2015

Selasa Santai

Pemandangannya indah betul pagi ini. Pagi-pagi mas suami nyuciin jaket-jaket (nyuci, apalagi yg tebel-tebel, itu emang jatahnya doi. Hoho), lalu lanjut nyikatin kamar mandi. Saya di dapur bikin nasi goreng, dadar telur dicabein, sama goreng tempe.

Dan itu terjadi di hari Selasa. Yup! It's not weekend, it's tuesday! *feeling cool*

Begini lah hikmahnya kalo suami-istri kerja sbg guru honorer yg lagi ga ada jam di sekolah. Santai bleeeeh.. B-)

*Lebih indah lagi kalo ada celoteh si kecil yg bolak balik tanya 'bu udah mateng belum nasi gorengnya?' :')
Rabbana hablana min-ladunka dzurriyatan thoyyibah, innaka sami'uddu'aa..

**E tapi kalo udah punya junior mah bagusnya ni jd pemandangan weekend aja. Si bapak udh naik tingkat, bukan honorer lagi, jadinya udah di kantor jam segini. Aamiiiin..